Butuh 350 Sachet Bekas untuk Dijadikan Satu Bata Ecobrick

Big Banner
Russell Maier memberikan pelatihan pembuatan modular pada workshop di Akademi Bambu Nusantara, Jumat (30/9)

Komunitas Ecobrick dibesarkan di Filipina enam tahun lalu dan dirintis oleh Russel Maier dari Kanada. Masyarakat Filipina sudah terbiasa mengelola botol plastik bekas menjadi beragam bentuk. Mulai dari tanaman, furnitur, hingga rumah.

Kalau untuk membuat furnitur, harus dibuat dulu modular yang portable (lepas-pasang). Sebelum membuat modular, botol bekas tersebut harus dibuat balok atau bata bangunan. Caranya, yakni dengan bungkus plastik bekas kemasan yang dipotong-potong kecil lalu dimasukkan ke dalam botol hingga padat.

Memadatkan botol ada teknik khususnya, yakni dengan memasukkan potongan bungkus plastik di sela-selanya. Selain teknik, berat juga jadi penentu. Ecobrick Traineer, Ani Himawati, menyebutkan butuh 200 gram lebih potongan sachet bekas agar botol bisa padat.

“Jadi, kita timbang dulu sampai 200 gram lebih. Walau dilihat seperti sudah padat, harus ditimbang juga,” katanya.

Baca juga: Yuk, Bikin Bata Bangunan dari Botol Bekas

Sebanyak 200 gram per botol sachet bekas, lanjut dia, sama saja dengan menyelamatkan lingkungan dari 350 bungkus sachet bekas. Menurutnya, ketimbang dibakar justru akan menimbulkan dampak polusi udara.

“Botol plastik atau bungkus plastik itu kan kalau dibakar timbul polusi udara karena ada bahan kimia berisikonya. Sebenarnya tidak boleh dibakar. Lebih baik recycle seperti ini (jadi bata bangunan),” katanya mengingatkan. (Wit)

Seorang anak memegang 3 ecobrick. Foto: Komunitas Ecobrick Filipina

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me