Ini Prosedur Merobohkan Gedung yang Benar

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Teknik yang dipilih guna merobohkan Gedung Bank Panin dianggap masih tak sesuai dengan prosedur seharusnya dan cenderung membahayakan lingkungan sekitar.

Perobohan sesuai prosedur haruslah mengikuti struktur gedung sehingga puing-puing jatuh dan debu yang ditimbulkan bisa terkendali.

“Jadi gedung ini kan punya struktur terdiri dari komponen pelat, horisontal, dan vertikal. Untuk yang benar itu pelatnya dibongkar lantai demi lantai, diikuti komponen horisontal balok-baloknya, dan terakhir diikuti komponen vertikal. Sama-sama turun, jadi aman,” jelas Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Davy Sukamta, kepada Kompas.com, Jumat (14/10/2016).

Perobohan gedung lantai demi lantai dianggap Davy mampu meminimilisasi risiko yang ada karena hanya terbatas satu lantai, bukan satu gedung secara keseluruhan.

Selain cara tersebut, penggunaan dinamit atau bahan peledak bisa menjadi alternatif namun risiko yang ditimbulkan terlalu berbahaya dan saat ini belum disetujui untuk dilakukan di Indonesia.

“Kalau di negara lain pakai dinamit sudah lumrah, cuma itu kan biasanya dilakukan oleh ahli karena kalau urutan peledakannya nggak benar robohnya jadi tidak terkendali,” imbuh Davy.

Cara lainnya, sambung Davy adalah dengan memasang dongkrak hidrolik pada komponen vertikal.

Kemudian di antara dongkrak tersebut komponen vertikal tersebut dirobohkan dan diturunkan sehingga seolah-olah gedung itu turun satu lantai per lantai.

“Pakai dongkrak hidrolik ini sangat terkendali, cuma ya akan memakan waktu lebih lama,” ucap dia.

PT Wahana Infonusa yang ditunjuk pihak Panin Bank sebagai kontrakor untuk membongkar gedung tersebut akan meletakkan pemberat berisi pasir dengan total 100 ton pada salah satu lantai gedung.

Selain meletakkan pemberat, pihaknya juga menggunakan sejenis cairan kimia yang berfungsi melemahkan struktur gedung di beberapa bagian.

Cairan kimia yang dimaksud akan dimasukkan dengan cara mirip dengan disuntik atau melubangi beberapa tiang penopang bangunan.

Cara-cara tersebut dilihat Davy Sukamta justru berbahaya dan tidak sesuai dengan prosedur yang ada.

“Ya bahaya dong, sekarang begini, ada gedung sudah dirancang terus dikasih beban yang berlebihan ya bakal jebol atau jatuh sama kayak jembatan kalau berlebih jebol. Dan jebolnya itu ke kali selesai. Tetapi ini gedung, semakin hancur ke bawah,” pungkas dia.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me