Bekasi dan Tangerang Jadi Target Incaran Gedung Ritel

Big Banner

Secara umum, pertumbuhan ritel market di kawasan Jabodetabek relatif stagnan dengan mayoritas penyewa adalah pelaku bisnis food & beverage (F&B).

Kendati Jakarta masih menjadi pasar yang besar untuk ritel, namun kebijakan moratorium yang dilakukan oleh pemerintah sukses menahan pertumbuhan ruang ritel baru di ibukota.

Terbukti, berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Colliers International pada Press Luncheon, Selasa (04/10) lalu, Ferry Salanto selaku Associate Director Colliers mengatakan bahwa suplai ruang ritel cuma tumbuh sebesar 2 persen (Year to Date) atau sekitar 4,54 juta m2 di Jakarta.

Hasilnya, meski ekonomi nasional masih tampak lesu dan banyak toko ritel yang menutup gerainya, namun tingkat okupansi ruang ritel cuma turun sebesar 1,1 persen (QoQ) menjadi 84,9 persen.

“Tak dipungkiri bahwa bisnis online mengurangi omzet pelaku bisnis ritel, tapi tidak semua. Kalau dilihat dari penjualan produk mungkin iya, tapi sekarang mal kan sudah menjadi gaya hidup,” tegas Ferry.

BACA JUGA : Wisatawan Meningkat, Hotel Bintang 4 Mendominasi Bali

Ia melanjutkan, performance mal di kelas A & B masih cukup baik menyerap pasar, namun kelas menengah ke bawah cenderung turun. Tapi beberapa tahun ke depan ritel memiliki potensi kenaikan okupansi.

“Ritel sekarang menjual lifestyle, itu yang harus terus dipertahankan. Offline juga ada impulse buying, mereka yang nggak niat beli bisa saja tertarik untuk beli,” tukas Ferry.

Mengenai kawasan, area Jakarta Selatan dan Jakarta Timur di luar CBD akan menjadi target incaran gedung ritel selanjutnya. Sementara untuk area di luar Jakarta adalah Bekasi dan Tangerang.

“Bekasi dan Tangerang itu sedang tumbuh, banyak hunian yang dibangun di sana. Ritel pasti akan menyasar kawasan residensial karena marketnya ada di sana,” tutupnya.

rumahku.com