Zurich, Kota Paling Lestari

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Bekerja sama dengan Centre for Economic and Business Research (CEBR), konsultan perencana Arcadis kembali merilis indeks kota lestari bertajuk The 2016 Arcadis Sustainable Cities Index. Ada 100 kota yang diteliti menggunakan 32 indikator yang terbagi dalam tiga kriteria utama, yaitu people (terkait kualitas hidup warga kota), planet (faktor-faktor yang terkait dengan pelestarian lingkungan) dan profit (indikator yang terkait dengan perekonomian kota).

zurich

Pada indeks kali ini, bobot penilaian diperbesar pada kualitas warga kotanya. Hal ini sebab diyakini bahwa wargalah yang membentuk sebuah kota; identitas yang unik penduduk kota adalah jiwa dari kota tersebut. Tujuan penyusunan indeks ini sendiri adalah untuk mengindikasikan kesempatan sebuah kota dalam persaingan global.

Jakarta termasuk dalam 100 kota yang disurvei, tapi menempati posisi ke 88. Terpuruk di bawah Kuala Lumpur (55), apalagi Singapura (2), dan bahkan Hanoi (87), tapi bisa “mengalahkan” Manila (96) dan New Delhi (97). Adapun lima kota paling lestari teratas, berturut-turut adalah: Zurich (Swiss), Singapura, Stockholm (Swedia), Vienna (Austria) dan London (Inggris).

Zurich  sebagai kota di peringkat pertama memang ternama sebagai kota layak huni (liveable). Pengelola kotanya memiliki fokus kuat terhadap segala hal terkait isu kelestarian, tapi juga tidak anti peremajaan agar kotanya tetap layak sebagai pusat bisnis keuangan dunia. Dari tiga indikator, kota ini menempati posisi pertama untuk hal terkait dengan faktor-faktor kelestarian lingkungan, namun hanya posisi ke 27 untuk urusan keterjangkauan dan keseimbangan hidup (people).

Kota terbesar di Swiss ini adalah pelopor kota yang akan menjadi pengguna listrik berdaya 2.000 watt per kapita pada 2050. Untuk itu, pengelola kotanya sudah berkomitmen untuk berinvestasi pada penggunaan energi terbarukan dan pengembangan gedung hijau, serta menggugah kepedulian masyarakat  dengan mengadakan acara hari lingkungan setiap tahunnya dan the Zurich Multimobil-action day. Kota ini juga mempunyai model sistem transportasi publik (trem, kereta, bus, kereta ringan) yang sangat terkoordinasi, sehingga mobilitas warga dan wisatawan menjadi mudah, cepat dan dapat terjangkau.  Warganya mempunyai kualitas hidup yang tinggi, terutama pada peringkat kesehatan. Sebagai salah satu pusat bisnis keuangan dunia, kota ini juga punya banyak inovasi, produktivitas tinggi dan upah pekerja yang rendah, sehingga ongkos produksi bisnis di sini lebih rendah daripada pusat bisnis keuangan lain. Dengan demikian, kota ini, menjadi atraktif baik untuk investasi, tinggal dan bekerja.

Khusus untuk nilai sub-index people, Seoul menempati posisi teratas. Ibukota Korea Selatan ini bahkan bisa mengalahkan sembilan kota di Eropa yang mengekor di bawahnya. Sementara itu Jakarta, pada sub-index ini berada di posisi 58.

Seoul disebut-sebut sebagai ibukota budaya global masa depan. Kota ini mempunya peringkat tinggi untuk indikator kesehatan serta pendidikan, dan itulah yang mendorong menempati posisi tertinggi pada sub-index ini. Kepedulian yang tinggi pada kedua hal tersebut bisa dilihat pada 2030 Seoul Plan yang memfokuskan pada lima hal, yaitu: kota yang menempatkan warganya sebagai pusat orientasi tanpa diskriminasi, kota global yang dinamis dengan bursa kerja yang kuat, kota yang mengedepankan histori dan budaya, kota yang aman dan layak huni, serta kota yang berorientasi pada komunitas, dengan menyediakan hunian yang layak dan transportasi yang mudah.

Sumber: The 2016 Arcadis Sustainable Cities Index

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me