Untung Rugi Pembayaran dengan Cash Keras/Tunai

Big Banner

Di dalam Majalah Properti Indonesia edisi Oktober 2016 di menurunkan ulasan tentang pola-pola pembayaran dalam transaksi bisnis properti. Di sebutkan dalam dunia properti terdapat tiga sistem pembayaran yang dapat dipilih oleh pembeli, yaitu tunai keras, tunai bertahap, dan kredit.

Apa perbedaan ketiganya? Mana yang lebih menguntungkan? Sebelum memilih menggunakan
sistem pembayaran, sebaiknya ketahui dan pahami terlebih dahulu penjelasan lengkap dari ketiganya. Berikut untung rugi dengan sistem tunai keras atau cash.

Masing-masing sistem pembayaran pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan mengetahuinya, tentu akan terhindar dari penipuan proses jual beli properti. Sistem Tunai Keras Sistem pembayaran tunai keras tentunya mewajibkan pembeli untuk membayar penuh senilai harga properti yang dibeli. Jangka waktu yang dibutuhkan untuk melunasi pembayaran adalah
sekitar satu bulan terhitung sejak adanya kesepakatan pembelian.

Apabila telah sepakat dengan properti yang ingin dibeli, pihak pembeli harus memberikan uang tanda jadi atau yang dikenal dengan booking fee. Jumlah yang harus dibayarkan ini biasanya hanya
beberapa persen dari harga properti yang dibeli.

Sistem pembayaran tunai keras sangat cocok dipilih apabila memiliki uang dalam jumlah lebih dan tidak digunakan untuk biaya hidup sehari-hari. Dengan menggunakan sistem pembayaran tunai,
maka pembelinya tidak perlu khawatir dengan adanya bunga dan propertinya pun akan sangat menguntungkan jika digunakan untuk berinvestasi.

Kelebihan dan Kekurangan

Sistem pembayaran tunai keras memang terkesan sangat sederhana. Banyak yang berpikir bahwa dengan segera melunasi pembayaran, maka tidak ada lagi yang perlu diurus. Meskipun demikian,
ternyata sistem pembayaran yang satu ini memiliki kelebihan dan kekurangan.

Keuntungan pertama yang akan didapatkan oleh pembeli, yaitu tidak ada bunga yang harus dibayarkan. Tidak hanya itu, pembeli pun tidak akan dibebani oleh kewajiban membayar utang berupa angsuran dalam jangka waktu tertentu.

Pihak pengembang pun banyak yang memberikan diskon dalam jumlah yang cukup besar apabila pembeli membayar secara tunai keras. Apabila dibandingkan, jumlah potongan yang diberikan
memang akan jauh lebih besar daripada sistem pembayaran lain.

Meskipun demikian, pembeli harus memiliki modal yang cukup besar apabila memutuskan untuk menggunakan sistem pembayaran tunai keras. Jika uang yang dimiliki hanya cukup untuk membeli rumah, maka sang pembeli tidak bisa mengalokasikan dana untuk keperluan investasi lain.

Terlebih lagi jika ternyata pembeli mengalami kesialan dengan membeli properti di pengembang ‘nakal’. Apabila ini terjadi, besar kemungkinan bahwa kepemilikan sertifikat akan tertunda. Oleh sebab itu, sebaiknya buatlah perjanjian dengan pihak developer di hadapan notaris agar risiko
seperti ini bisa diminimalisir.

Perlu diketahui, biasanya pelunasan pembayaran properti dilakukan secara bersamaan dengan proses penandatanganan Akta Jual Beli (AJB). Proses ini dilakukan di hadapan notaris yang diikuti
dengan penyerahan sertifikat asli. Apabila pendandatanganan tidak diikuti dengan penyerahan sertifikat asli, maka itu hanya sekadar Perjanjian/Pengikatan Penandatanganan Akta Jual Beli. (Versi digital mpi dapat diakses melalui https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia atau http://www.wayang.co.id/index.php/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis. )

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me