Citarum, Sungai dengan Masalah Paling Kompleks di Indonesia

BANDUNG, KOMPAS.com – Kondisi Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat kian memprihatinkan.

Segala permasalahan timbul tak hanya dari kualitas air sungainya melainkan juga lingkungan sekitarnya. Tak ayal jika permasalahan yang ada di sungai sepanjang 300 kilometer itu disebut-sebut paling rumit.

“Permasalahan di Sungai Citarum adalah yang paling kompleks di Indonesia karena ini menjadi sungai paling tereksploitasi akibat adanya industri, pertanian, desakan demografi, dan urbanisasi,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Yudha Mediawan, kepada Kompas.com, Kamis (27/10/2016).

Aktivitas pembangunan tersebut dinilai Yudha tidak ramah lingkungan, sehingga berakibat pada tekanan-tekanan melebihi daya tampung Sungai Citarum.

Maka dari itu, tempat tinggal masyarakat yang berada di sekitar Sungai Citarum tak luput dari banjir ketika airnya meluap.

Yudha menambahkan, penurunan air di wilayah aliran Sungai Citarum seperti di Bale Endah hampir 11 centimeter per tahunnya sedangkan tinggi tanah di bawah elevasi banjir Citarum.

“Jadi kalau Citarum airnya tinggi otomatis wilayah di sekitarnya akan tergenang,” imbuh dia.

Menurut salah satu komunitas Sungai Citarum yakni Barudak Baraya Cisangkuy Citarum (B2C2), banjir di sekitaran Sungai Citarum juga terjadi lantaran ada kebocoran dari drainase-drainase yang memang belum memadai.

Imbasnya, rumah-rumah pun terendam karena adanya saluran air yang melalui zona wilayah sungai.

Oleh sebab itu, B2C2 bersama dengan BBWS Citarum tengah berupaya membuat pintu-pintu air agar air sungai tidak langsung masuk ke saluran air menuju rumah.

Permasalahan lainnya yang menyebabkan banjir di sekitar Sungai Citarum adalah kebiasaan masyarakat di sana membuang sampah dan menjadikan Sungai Citarum sebagai tempat sampah raksasa.

“Kami mengimbau agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai. Walaupun sulit tapi Insya Allah kami akan berusaha karena kalau tidak diupayakan akan terus kena bencana,” ungkap Ketua Komunitas B2C2 Abah Edi.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com