Investasi Apartemen Tetap Menarik di Tengah Kelesuan

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi November 2016 menurunkan ulasan tentang prospek investasi apartemen di tengah pasar properti yang belum membaik. Namun demikian pengembang tetap optimis dengan meluncurkan hunian vertikal di paruh kedua 2016. Optimisme mulai pulihnya kondisi makro ekonomi menjadi indikator pasar yang akan kembali bergairah harus segera ditangkap.

Awal semester kedua 2016, industri properti dalam negeri belum membaik. Meskipun sebelumnya pengamat melihat akan adanya pergerakan positif setelah berbagai stimulus dimunculkan. Ternyata masyarakat masih bergeming untuk menginvestasikan dananya di sektor properti, terutama Apartemen.

Memasuki kuartal ke tiga tahun 2016, ternyata permintaan akan hunian vertikal di Jakarta masih sepi. Berdasarkan catatan konsultan properti Colliers Internasional, pertumbuhan penjualan apartemen di Jakarta hanya mencapai 0,2% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Senior Associate Director Colliers Internasional Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan, menurunnya minat membeli apar temen ini akhirnya membuat pertumbuh an harga apartemen di Jakarta melambat. Pertumbuhan harga properti pada triwulan ketiga hanya mencapai 4,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Padahal biasanya kenaikan harga apartemen bisa mencapai 10%. “Selain karena sepinya pembeli, faktor banyaknya pasokan apartemen baru menjadi salah faktor mengapa harga apartemen melambat. Di Jakarta memasuki kuartal 3 tahun 2016, ada sekitar 3.317 unit apartemen baru, jadi total unit apartemen yang ada di Jakarta saat ini mencapai 171.014 unit,” ujarnya.

Sementara menurut Lilly Tjahnadi, Proper ty Business Consultant, saat ini sektor industri properti berada titik terendah. Hal tersebut ditandai dengan menurunnya permintaan properti dan menurunnya harga properti. Layaknya roda yang berputar, pasar properti memiliki siklus properti, siklus tersebut berlangsung selama 5 tahun, dan puncak bisnis pro perti dalam negeri nanti akan terjadi pada tahun 2018.

“Saya yakin tahun 2018 nanti pro perti akan kembali bangkit, apalagi sekarang pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan baru dan dampaknya akan terasa tahun 2018 nanti,” kata Lilly kepada Lamudi.co.id.

Bagi para investor, Lilly menambahkan, sebenarnya saat terendah seperti saat ini merupakan waktu yang paling tepat untuk membeli properti. Karena pada saat ini, biasanya pengembang akan menjual produknya dengan harga yang murah.

Jika konsumen membeli properti sekarang, maka mereka akan untung karena bisa menjualnya dengan harga berkali-kali lipat di saat kondisi properti sudah kembali. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan utama bagi para pengembang. Berdasarkan rentang waktu yang diperkirakan, jika pengembang mulai meluncurkan proyek baru sekarang. Maka ketika bangunan sudah berdiri sudah memasuki masa keemasan properti. Hal ini tentunya menjadi nilai tambah bagi investor.

Belum lagi, menurut Direktur PT Lippo Cikarang Tbk. Hong Kah Jin, penjualan properti biasanya ramai pada akhir tahun. Dia pun optimis dengan berlakunya kebijakan amnesti pajak dan pelonggaran kredit dari Bank Indonesia, industri properti akan lebih tumbuh hingga akhir tahun ini. Optimisme juga ditunjukkan oleh PT Summarecon Agung Tbk. di akhir tahun ini. Adrianto P. Adhi, Direktur Utama Summarecon menyebut penjualan hingga akhir tahun akan mulai menanjak.

Didorong oleh sejumlah stimulus seperti penurunan bunga kredit, relaksasi kebijakan loan to value, hingga penghapusan larangan kredit inden untuk fasilitas kredit kedua. Ferry memproyeksikan pasar apartemen Jakarta baru akan stabil dan mencapai titik keseimbangannya pada satu tahun hingga dua tahun ke depan. Maka tidaklah mengherankan jika pengembang kembali gencar meluncurkan proyek baru. Karena hingga 2020 mendatang, diproyeksikan akan ada pertambahan pasokan 77.128 unit yang akan selesai di Jakarta.

mpi-update.com