2017 Bisnis Properti Lebih Oke, Ini Indikatornya

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Banyak kalangan menatap tahun 2017 yang kurang dari 1 bulan lagi akan kita masuki akan lebih menjanjikan untuk sektor properti. Pelemahan sektor properti disebut telah mencapai titik terendahnya pada tahun 2016 ini sehingga pada tahun 2017 situasinya akan lebih baik. Karena itu di penghujung tahun 2016 ini kalangan pengembang sudah lebih percaya diri untuk meluncurkan proyek baru.

Robert Pakpahan

Robert Pakpahan

Optimisme dengan situasi sektor properti tahun depan yang lebih cerah ini dibenarkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurut Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Robert Pakpahan, ada beberapa indikator yang bisa membuat kita lebih optimistis menatap bisnis properti pada tahun 2017.

“Pertumbuhan kita akan mencapai 5,1 persen sementara negara lain masih banyak yang minus atau nol koma, inflasi kita terjaga di angka 4 persen, suku bunga Bank Indonesia (BI) hanya 5,3 persen, dan belanja negara yang mencapai Rp2.000 triliun. Ini merupakan angka yang sangat besar yang akan menggerakan perekonomian dan pasti berdampak bagus untuk sektor properti,” ujarnya saat berbicara di Musyawarah Nasional (Munas) Real Estat Indonesia (REI) di Jakarta, pekan ini.

Pemerintah, lanjut Robert, merencanakan penerimaan negara untuk target tahun depan lebih realistis dengan target penerimaan pajak yang menurun. Hal ini baru pertama kali terjadi untuk periode tahun 2016 ini penerimaan pajak lebih kecil dari yang ditargetkan sehingga ini yang membuat pemerintah lebih realistis dalam kalkulasi penerimaan negara dan proyeksi bisnisnya.

Selanjutanya, alokasi APBN untuk pendidikan akan mencapai Rp416 triliun, kesehatan Rp104 triliun, dan untuk pengembangan infrastruktur mencapai Rp387,3 triliun. Untuk defisit APBN juga dijaga pada angka 3 persen dan hal inilah yang menjadi pondasi ekonomi kita tetap baik walaupun kerap disebut pemerintah terus berhutang.

Robert menjelaskan, hutang pemerintah tidak lebih dari 3 persen dan ini angka yang sangat baik bila dibandingkan negara-negara tetangga yang bisa mencapai 4-5 persen bahkan di Brazil mencapai 10 persen. Dasar yang baik ini diyakini akan membuat iklim bisnis pada tahun 2017 lebih baik dibandingkan tahun ini.

“Pemerintah juga akan mengalihkan subsidi energi maupun spending yang kurang produktif ke bidang sektor riil seperti proyek infrastuktur. Dengan anggaran belanja Rp2.000 triliun, ini dampaknya pasti akan sangat besar untuk sektor properti. Peringkat easy doing business kita juga terus naik dan ini akan membuat investasi asing semakin banyak yang masuk ke Indonesia,” pungkasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me