Kenaikan Harga Tanah Sulitkan Pengembang

Big Banner

Semarang – Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah menyatakan, pengembang sering dipersulit dengan harga tanah yang setiap tahun terus mengalami kenaikan.

“Kami sering terdepak dari kawasan yang sebelumnya kami kembangkan karena permasalahan harga tanah,” kata Wakil Ketua REI Jawa Tengah Bidang Tata Ruang, Joko Santoso, di Semarang, Kamis (29/12).

Dikatakan, ketika lingkungan yang dibangun tersebut tumbuh dan diikuti oleh keberadaan industri, maka harga tanah akan jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat awal para pengembang membeli.

“Kalau mau investasi berikutnya tidak mungkin harga tanah sama dengan awal, pasti sudah menyesuaikan harga tanah yang berlaku di konsumen,” katanya.

Dikatakan, kondisi tersebut sering membuat dilema para pengembang. Dalam hal ini, pengembang bukan hanya dari rumah komersial tetapi juga rumah sederhana atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

“Untuk pengembang FLPP harus hati-hati terhadap harga tanahnya. Apalagi secara hukum ekonomi memang harga tanah selalu meningkat setiap tahunnya,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap ada penggaturan ruang suatu kawasan terintegrasi dengan perencanaan yang luas. “Dengan begitu, kendala seperti ini tidak akan terjadi,” katanya.

Selain itu, penyesuaian harga rumah juga harus dilakukan setiap tahun, dengan begitu pengembang dapat mengikuti harga tanah yang juga meningkat setiap tahunnya.

“Seperti misalnya harga rumah sederhana yang pada tahun depan akan naik dari Rp116,5 juta di tahun ini menjadi di kisaran Rp120 juta. Kenaikan ini memang harus dilakukan karena mengikuti harga tanah,” katanya.

/FER

ANTARA

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me