Ruang Perkantoran Tradisional di Asia Mulai Mati

Big Banner

JAKARTA – Sebagai generasi baru, para generasi yang melek akan teknologi kini mulai memasuki dunia kerja. Canggihnya teknologi ke depan disinyalir akan semakin mampu membuat pekerja kantoran tidak perlu lagi bekerja menuju kantor. Alhasil, hal itu semakin membuat terus menurunnya kebutuhan ruang kantor di Asia.

Dilansir dari laman Property Report, Jumat (6/1/2016), tujuh dari 10 perusahaan menggunakan fleksibilitas kerja dengan alat untuk perekrutan dan retensi. Kemudian, tiga perempat dari responden survei mengaku minat dalam hal teknologi yang memungkinkan mereka untuk bekerja setiap harinya di berbagai lokasi mana saja.

Selain itu, generasi milenial akan diperkirakan akan mencapai 50% dari total tenaga kerja dunia pada 2020. Satu dekade kemudian, angka diprediksi akan tumbuh menjadi 75%.

Hingga Juni, operator ruang kerja fleksibel telah mencapai lebih dari 270.000 kaki persegi di Hong Kong. Angka ini diperkirakan akan menjadi 475.000 kaki persegi pada akhir tahun.

Negara-negara di Asia dapat dikatakan terlambat melakukan revolusi kerja yang fleksibel. Hal itu terlihat dari beberapa perusahaan di Shanghai bernama WeWork, menjadi penyewa kantor terbesar pada 2015. Kemudian tahun ini, perusahaan akan mengambil ruang perkantoran 90.000 kaki persegi di Hong Kong.

Sebuah studi dari Cornell University menemukan pekerja yang terpapar dari udara luar akibat ruang kerja yang terbuka selama kurun waktu 3 jam, memiliki tingkat stres lebih tinggi ketimbang mereka yang berada di dalam ruangan. Demikian pula dalam sebuah studi Denmark yang mengambil responden lebih dari 2.400 karyawan, dengan hasil 62% dari mereka sering sakit daripada yang berada di kantor.

(dhe)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me