Perkantoran “Oversupply”, Pengelola Disarankan Turunkan Harga

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagai pusat bisnis, dan pemerintahan, Jakarta terus membangun gedung-gedung menjulang.

Tahun 2017 hingga dua tahun ke depan, ibu kota Indonesia ini bakal kembali dijejali puluhan gedung-gedung perkantoran dengan luasan mencapai jutaan meter persegi.

Riset Colliers International Indonesia mencatat pada akhir 2016 saja ada 12 gedung perkantoran baru yang beroperasi, sekaligus menambah total luas perkantoran menjadi 574.386 meter persegi.

Nanti, dalam kurun waktu dua tahun mendatang, sebanyak 58 gedung perkantoran baru bakal menghiasi kaki langit Jakarta, atau seluas 2.629.708 meter persegi.

Tambahan tersebut membuat kondisi perkantoran Jakarta mengalami kelebihan pasokan atau oversupply.

Imbasnya banyak gedung-gedung perkantoran yang mengalami vakansi atau tingkat kekosongan tinggi karena minimnya penyewa.

Oleh sebab itu, pengembang atau pengelola gedung harus mulai mengubah strateginya agar tidak merugi.

“Gedung-gerung baru yang belum terisi penuh harus memiliki strategi menurunkan harga agar lebih terjangkau sampai mendapatkan okupansi sesuai dengan target yang mampu menutup biaya operasional gedung,” ungkap Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, pekan lalu.

Menurut Ferry, perkantoran baru yang okupansinya rendah memberatkan pengelola dalam menjalankan operasional gedung.

Kecuali untuk perusahaan atau pengelola asing yang memang kemampuan finansialnya cenderung aman dan mampu bertahan hingga kondisi pasar membaik.

Lebih lanjut Ferry menjelaskan, perusahaan yang punya arus kas kurang mumpuni ada baiknya menerapkan strategi melayani penyewa eksisting agar tidak pindah ke tempat lain.

“Misalnya dengan memberikan diskon cukup signifikan agar bisa bertahan dulu paling tidak sampai terhuni 60 persen menutup biaya operasional,” imbuh Ferry.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me