Tingkat Hunian Turun, Persaingan Bisnis Hotel di Bali Makin Sengit

Big Banner

DENPASAR, KOMPAS.com – Sengit. Ini mungkin kata yang cocok untuk mendeskripsikan kondisi bisnis perhotelan di Bali. 

Betapa tidak, mengutip pernyataan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, Cokorda Raka Darmawan, di seluruh Bali terdapat 150.000 kamar per Desember 2016. 

“Khusus di Kabupaten Badung terdapat 75.000 kamar,” ungkap Cokorda kepada Kompas.com, Kamis (12/1/2017).

Puluhan ribu kamar tersebut berasal dari 155 hotel berbintang, dan 478 hotel non-bintang.

Bicara mengenai hotel non-bintang, atau ekonomi, trennya semakin mengkhawatirkan. Jika tidak dibatasi, dan diawasi, pertumbuhannya akan semakin tak terkendali.

Baca: Tolak Bicara Moratorium, Pemkab Badung Perketat Pertumbuhan Hotel

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tren negatif tersebut terlihat dari kinerja tingkat penghunian kamar (TPK) atau occupancy rate

TPK hotel non-bintang pada November 2016 saja rata-rata 30,86 persen, dengan TPK tertinggi terjadi di Kabupaten Badung, yaitu sebesar 44,73 persen. Sementara TPK terendah terjadi di Kabupaten Bangli dengan angka 6,42 persen.

Dibandingkan dengan kinerja bulan Oktober 2016, TPK hotel non-bintang pada bulan November turun sebesar 3,22 poin.

Tidak hanya pada hotel ekonomi, penurunan TPK juga terjadi pada hotel berbintang. Pada November 2016 angka TPK turun 2,48 poin hingga berada pada posisi 59,71 persen.

Penurunan terjadi di hampir semua daerah kecuali Buleleng. Meski capaian TPK hotel Berbintang di Buleleng masih tergolong rendah (terendah kedua setelah Karangasem), namun jika dibanding bulan sebelumnya, TPK hotel berbintang di daerah ini tercatat meningkat 0,47 poin.

Sebaliknya penurunan paling tinggi tercatat di Karangasem yaitu sebesar 9,62 poin.

Sejalan dengan penurunan TPK, rata-rata lama menginap (length of stay) juga menunjukkan perubahan yang negatif.

Rata-rata lama menginap secara total mencapai 2,22 hari, merosot dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,16 hari.

Jika ditelaah lebih jauh, penurunan rata-rata lama menginap disebabkan oleh turunnya rata-rata lama menginap tamu asing dari 3,16 hari menjadi 2,22 hari.

Rata-rata lama menginap tamu domestik juga ikut berkontribusi terhadap penurunan tersebut yakni 0,05 hari.

shutterstock Ilustrasi

Sedangkan lama tamu menginap di hotel berbintang menurut kabupaten/kota, tercatat rata-rata tertinggi terjadi di Buleleng selama 2,38 hari.

Hal ini tentu merupakan kabar baik di tengah kelesuan pariwisata di Bali Utara. Pada bulan yang sama Buleleng ternyata menjadi satu-satunya daerah dengan angka TPK yang meningkat, serta tercatat pula sebagai daerah dengan rata-rata lama menginap tamu tertinggi untuk hotel berbintangnya.

Sementara rata-rata lama menginap tamu asing pada hotel non-bintang tampak jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tamu Indonesia.

Rata-rata lama menginap tamu asing mencapai 3,18 hari sementara tamu Indonesia hanya sekitar 1,71 hari.

Secara keseluruhan rata-rata lama menginap pada bulan November 2016 mencapai 2,56 hari atau sedikit menurun (0,08 hari) dibanding bulan sebelumnya.

Gianyar adalah kabupaten dengan rata-rata lama menginap tertinggi yang mencapai 4,03
hari. Sebaliknya Bangli adalah yang terendah dengan capaian 1,06 hari.

40 Hotel

Data-data tersebut semakin menguatkan pernyataan Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto.

Menurut dia, performa bisnis perhotelan di Bali secara umum tidak lebih baik dari kawasan lain di Indonesia.

“Tingkat hunian rata-rata sepanjang tahun 2016 lalu hanya 68 persen,” kata Ferry.

Demikian halnya dengan kinerja tarif rerata harian yang terus menurun sejak 2014 lalu menjadi sekitar 107 dollar AS.

Secara umum Colliers mencatat, sepanjang 2017 ini Bali akan menambah 40 hotel baru. Rinciannya, tiga hotel bintang tiga dengan jumlah 300 kamar, Horison Hotel Kuta, Grand Serela Hotel, dan Ivory Hotel Padma.

Kemudian, 21 hotel bintang 4 dengan 3.932 kamar. Menyusul 14 hotel bintang lima dan mewah dengan 2.446 kamar, dan 2 hotel bujet sebanyak 225 kamar. 

Turis Australia masih mendominasi di peringkat teratas dengan jumlah sekitar 950.000 orang. Disusul China dengan 805.000 orang, dan India dengan 175.000 orang.

 

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me