Synthesis Agresif Bidik CBD Jakarta

Big Banner

 

JAKARTA-PT Synthesis Karya Pratama (Synthesis Development), perusahaan properti yang terus bertumbuh, agresif membidik kawasan central business district (CBD) Jakarta. Untuk mendukung ekspansinya, Synthesis tahun ini menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 700 miliar. Di sisi lain, perusahaan itu juga berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2018.

“Pasar properti di Jakarta akan tumbuh subur di sekitar area CBD dan kawasan yang dilalui jalur transportasi massal. Itu sebabnya, kami fokus ke kawasan CBD dan kawasan yang dilalui jalur transportasi massal di Jakarta dan sekitarnya,” kata Direktur Utama Synthesis Development Budi Yanto Lusli kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (17/1), di sela program CEO Talks yang akan ditayangkan Beritasatu TV dalam waktu dekat.

Menurut Budi, Synthesis yang mengawali bisnis properti di kelas menengah ke bawah, seperti Kalibata City dan Bassura City, sekarang mulai menyasar segmen menengah ke atas dan kelas atas.

Dia menjelaskan, capex 2017 sebesar Rp 700 miliar akan digunakan untuk membangun hunian vertikal, kawasan superblok, dan ruang perkantoran yang terpusat di Jakarta. Perseroan menargetkan pendapatan dari penjualan (marketing sales) sebesar Rp 1,5 triliun pada 2017. Tahun lalu, Synthesis membukukan marketing sales Rp 1,1 triliun.

Dia menambahkan, untuk memuluskan rencana go public pada 2018, perseroan terus menggenjot pendapatan berulang (recurring income) dari proyek-proyeknya, seperti shopping center.

Budi Yanto Lusli mengungkapkan, pertumbuhan Jakarta sebagai kota besar telah menyebabkan pergeseran area bisnis. Para pengembang melihat adanya perluasan area CBD, yakni batas area CBD ke selatan sudah mencapai Pancoran, sedangkan ke barat sampai Tugu Monumen Nasional (Monas). Itu mengakibatkan harga tanah di CBD Sudirman menyentuh level tertinggi, yakni Rp 200 juta per m2.

“Beberapa kawasan yang akan dilewati mass rapid transit (MRT) dan light rail transit(LRT) juga sudah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan,” tutur dia.

Dalam dua tahun ke depan, kata dia, Synthesis fokus membangun properti di kawasan sekitar CBD Jakarta. Ini merupakan salah satu strategi perusahaan untuk merespons kebutuhan pasar, khususnya permintaan hunian yang sangat tinggi.

Synthesis, menurut Budi, akan memulai pembangunan tiga proyek baru pada 2017, yakni Prajawangsa City di Cijantung, kawasan hunian di Lebak Bulus, dan hunian di Ciputat.

“Kami melihat masih ada kebutuhan dan permintaan yang besar di daerah Jakarta, khususnya sekitar area CBD dan selatan Jakarta. Itu karena aksesibilitas dan potensi kenaikan harganya sangat tinggi, seperti di Lebak Bulus yang dilalui MRT dan Kemang yang menjadi favorit karena masih asri,” papar dia.

 

Proyek Baru

Budi Yanto Lusli mengemukakan, dua proyek terbaru Synthesis di Lebak Bulus dan Ciputat belum dirilis ke pasar. Gross development value (GDV) proyek Lebak Bulus dan Ciputat diperkirakan mencapai Rp 3-4 triliun. Kedua kawasan terpadu yang belum diberi nama ini masing-masing akan menyediakan hunian sebanyak 1.500 unit di Lebak Bulus dan 1.000 unit di Ciputat.

“Untuk proyek di Lebak Bulus dan Ciputat, kami sedang mengurus perizinan. Kalau izinnya sudah siap maka kami bisa mulai akhir tahun ini dan bisa selesai dalam empat tahun pembangunan,” ujar dia.

Dihubungi secara terpisah, Managing Director Synthesis Development Julius Warouw menjelaskan, Synthesis tengah melakukan konsultasi untuk proyek hunian vertikal di kawasan Lebak Bulus. Apartemen ini akan menyasar kalangan muda dan masyarakat menengah. Rencananya, di lokasi akan dibangun dua tower apartemen dengan luas 40 m2.

“Konsepnya masih dimatangkan. Yang pasti, Lebak Bulus dikenal dengan lingkungan yang masih hijau. Kami ingin apartemen ini nantinya juga menjadi hunian hijau,” ucap Julius.

Direktur Synthesis Imron Rosyadi mengatakan, Synthesis tengah menyusun studi untuk pembangunan hunian di Ciputat, Tangerang Selatan. Kawasan tersebut sangat potensial untuk pertumbuhan bisnis properti. Salah satu pasar yang dibidik adalah para pekerja di Jakarta yang belum memiliki hunian.

“Saat ini mereka mencari hunian di sekitar Jakarta. Selain itu, adanya kampus Universitas Islam Negeri di sana menjadi potensi market yang potensial. Banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di sana,” tutur dia.

Investor Daily

Laila Ramdhini/EDO

Investor Daily

beritasatu.com