Lupakan Kontroversi MRT “Jangkrik”, Tengoklah MRT Korsel dan Jepang

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Belum lagi warga menikmati fasilitas transportasi publik mass rapid transit (MRT), langkah kontroversial malah ditempuh Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono.

Dia berencana mengganti desain MRT Jakarta yang dianggapnya seperti jangkrik. Untuk itu, Sumarsono akan mengirim tim ahli ke Jepang untuk membicarakan desain baru. 

Baca: Pemprov DKI Kirim Tim ke Jepang untuk Desain Ulang MRT Jakarta

Padahal, saat ini infrastruktur transportasi tersebut sedang dalam proses pembangunan dan ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2019. 

Selagi pembangunan jalur MRT berjalan, mari sejenak menengok MRT yang sudah lama beroperasi di negara-negara maju, seperti Jepang, dan Korea Selatan (Korsel).

Kendati pada prinsipnya sama-sama angkutan massal, namun kedua negara ini punya nama berbeda untuk layanan MRT-nya. 

Di Korsel, layanan MRT dikenal dengan nama Subway. Subway Korea didukung oleh sistem persinyalan untuk mengontrol kecepatan kereta, jarak antara kereta, waktu dan tempat berhenti, serta waktu membuka dan menutup pintu secara akurat.

Sistem itu memastikan segala aktivitas berlangsung aman bagi penumpang.

www.smrt.co.kr Interior Subway Korea

Subway Korea memanfaatkan sejumlah teknologi, seperti Digital Transmission System (DTS) yang berguna sebagai jaringan komunikasi dan informasi.

Selain itu, ada teknologi Video Transmission System (VTS) yang mengontrol dan memastikan penumpang bisa naik dan turun kereta dengan selamat. Untuk mengontrol arus lalu lintas Subway Korea menggunakan Train Radio System (TRS). 

Biaya transportasi Subway Korea dihitung berdasarkan jarak. Untuk jarak 10 kilometer, penumpang membayar 1.250 won atau setara Rp 14.300 .

Untuk 10 sampai 50 kilometer selanjutnya, tarif bertambah 100 won (Rp 1.141) per 5 kilometer. Jika jaraknya lebih dari 50 kilometer, tarif bertambah sebesar 100 won setiap 8 kilometer.

Penumpang bisa menggunakan dua jenis tiket, yakni tiket sekali perjalanan dan tiket yang dapat digunakan berkali-kali atau multiple journey card.

Tiket tersebut dibeli di vending ticket machine yang terdapat di stasiun. Untuk membeli tiket sekali perjalanan, penumpang dapat memilih “Single Journey Tiket” di layar mesin.

Lalu, isi jumlah penumpang yang akan berangkat. Pembayaran dapat dilakukan di mesin tersebut.

www.shutterstock.com Tokyo Metro Tozai Line

Untuk membeli multiple journey card, penumpang bisa melalukan cara yang sama melalui vending ticket machine.

Namun penumpang mesti memilih kategori multiple journey card sebelum bertransaksi. Pada mesin tersebut, penumpang juga dapat mengisi ulang saldo dalam kartu perjalanan.

Setelah mendapat kartu, tempel kartu tersebut ke gerbang sensor. Masuklah ke jalur yang sesuai dengan tujuan.

Beralih ke Jepang. Layanan MRT di Jepang dikenal dengan nama Tokyo Metro. Moda transportasi ini mampu mengakses sejumlah destinasi populer, layaknya Sensoji Temple (Asakusa), Shibuya, Kabukicho (Shinjuku), Tsukiji Market (Tsukiji), Kabuki-za (Higashi-ginza), dan Tokyo Tower (Kamiyacho).

Kereta ini datang ke stasiun setiap dua sampai tiga menit sekali pada jam sibuk. Dalam sehari, Tokyo Metro mengangkut lebih dari 6,3 juta penumpang.

Biaya perjalanan untuk orang dewasa ialah 170 yen (Rp 20.000), 200 yen (Rp 23.500), 240 yen (Rp 28.300), 280 yen (Rp 33.000), dan 310 yen (Rp 36.500). Tarif tersebut mengacu kepada jarak perjalanan yang ditempuh. 

Setiap tiket menampilkan nominal tarif perjalanan. Penumpang dapat membeli tiket dengan tarif sesuai jarak yang ditempuh.

Ada beberapa jenis tiket yang dapat penumpang pilih. Pertama, tiket reguler. Tiket tersebut digunakan untuk sekali perjalanan.

jakartamrt.co.id Inilah penampilan moncong MRT yang dikatakan oleh Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono seperti jangkrik.

Kedua, tiket kupon, yakni tiket yang dijual dalam bentuk paket. Ada paket yang berisi 11 tiket untuk orang dewasa dan anak-anak yang dapat digunakan setiap waktu, 12 tiket untuk orang dewasa yang dapat digunakan setiap Senin sampai Jumat pukul 10.00 sampai 16.00 sore, dan 14 tiket untuk orang dewasa yang berlaku hanya pada akhir pekan.

Penumpang pun dapat memilih tiket student/commuter railway pass. Tiket ini dapat digunakan secara tidak terbatas, ke tujuan mana pun dan kapan pun.

Dari segi desain kereta untuk layanan MRT, baik Subway Korea maupun Tokyo Metro, sama-sama serupa dengan commuter line di Jakarta. Seperti diketahui, armada kereta commuter line di Jakarta memang diimpor dari Jepang. 

Terkait desain MRT untuk Jakarta, Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah menyatakan desain garapan MRT tidak kalah apik dengan milik luar negeri.

“Sebagai informasi, desain MRT Jakarta bernuansa hijau. Di bagian kepala kereta ada layar yang menampilkan informasi rute yang dituju,” kata dia kepada Kompas.com, Rabu (18/1/2017).

 

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me