Wilsor Group Investasi Rp 3,5 Triliun dalam 5 Tahun

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Wilsor Group. Nama ini mungkin masih terdengar asing di telinga publik. Namun, jika kita menyebut Duta Putera Group, daftar portofolio propertinya sepanjang usia kiprahnya (25 tahun).

Wilsor Group dan Duta Putera Group adalah “dua bersaudara” alias sister company. DNA keduanya terdeteksi dari kepemilikan pada portofolio properti yang telah dikembangkan.

Sebut saja perumahan Bukit Golf Riverside Cibubur, Perkantoran Hijau Arkadia, dan Talavera Office di koridor TB Simatupang, serta perkantoran Menara DEA di Mega Kuningan.

Saat keempatnya dikembangkan, perusahaan yang membangun berada di bawah naungan Duta Putera Group.

Namun, seiring dengan perkembangan pasar properti yang kian dinamis, pembagian usaha pun dilakukan.

Ketiga portofolio perkantoran komersial diambil alih dan dikelola atas nama Wilsor Group. Sedangkan Duta Putera Group mendapat porsi mengembangkan dan mengelola Bukit Golf Cibubur, dan proyek perumahan lainnya.

“Jadi Wilsor Group dan Duta Putera Group sebetulnya adalah sister company. Sekarang, properti high rise commercial di bawah holding Wilsor Group, dan Duta Putera Group merupakan holding perumahan,” papar Presiden Direktur Wilsor Group Ali Munanda Soedarsono kepada Kompas.com, Rabu (19/1/2017). 

Kiprah Wilsor Group tak sampai di situ. Mereka kemudian menambah rekam jejaknya dengan membangun apartemen kelas atas bertajuk LaVie All Suites di bilangan Kuningan.

Apartemen sebanyak 360 unit ini dipasarkan dengan harga serentang Rp 55 juta hingga Rp 68 juta per meter persegi untuk dimensi 100 meter persegi hingga 185 meter persegi.

Baca: Kalau Mau Tinggal di Kuningan, Harus Beli Apartemen Rp 8 Miliar

Ali menuturkan dalam lima tahun ke depan kelompok usahanya akan berekspansi dengan total nilai investasi Rp 3,5 triliun. 

Rinciannya, Rp 2,5 triliun untuk pengembangan apartemen di wilayah Jakarta Barat dengan harga setara LaVie, namun dengan ukuran yang lebih kecil.

Proyek berikutnya adalah taman perkantoran skala mega di koridor Gatot Subroto, tepatnya di depan Balai Kartini, Jakarta Pusat.

Perkantoran tersebut mengombinasikan konsep sewa dan jual atau strata title yang diperuntukan bagi para pebisnis dari lintas sektor.

“Nilai investasinya sekitar Rp 1 triliun,” imbuh Ali.

Pengembangan kedua proyek tersebut, kata Ali, dimulai pada kuartal I tahun 2018.

Ali optimistis pasar properti Indonesia saat ini sudah jauh lebih baik. Terutama untuk pasar apartemen kelas atas.

“Kelas pasar ini tidak kelebihan pasokan ya. Berbeda dengan kelas menengah, dan bawah. Jadi pasar apartemen kelas atas akan lebih dulu pulih,” tutupnya.

 

 

 

properti.kompas.com