Hary Tanoe Akan Temui Putra Donald Trump, Ini Agendanya

Big Banner

TEMPO.CO, Jakarta – Bos MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, berencana untuk bertemu dengan dua putra dari Presiden Amerika Serikat, Donald J Trump untuk membicarakan kelanjutan kerjasama bisnis mereka. Dia akan bertemu dengan Eric dan Donald Jr di New York, pekan ini sebelum menghadiri inaugurasi pelantikan Trump sebagai presiden baru AS pada Jumat lusa. Saat ini Hary sudah berada di Washington.

“Itu kewajiban saya untuk memastikan semua berlanjut dengan baik, untuk melindungi kepentingan semua orang,” ujar Hary seperti dikutip Financial Times, Rabu, 18 Januari 2017.

Menurut Hary, Eric dan Donald Jr adalah orang-orang baik, sangat profesional dan sederhana. Mereka akan membahas kelanjutan kerjasama bisnis pembangunan dua resor di Lido, Jawa Barat dan Bali. Sebagai pengusaha real estat, Trump melalui perusahaannya yakni Trump Hotel Collection menjalin kerja sama dengan MNC Group melalui anak usahanya PT Media Nusantara Citra Land Tbk (KPIG) pada 2015 lalu.

Baca : Bisnis Trump di Indonesia Dinilai Rawan Konflik Kepentingan

Karena Trump sudah terpilih menjadi Presiden AS, maka untuk menghindari konflik kepentingan, dia menyerahkan pengelolaan bisnis kepada dua putranya. “Jika pekerjaan mereka buruk, saya akan menyatakan-kamu dipecat,” ujar Trump dalam konferensi pers pertamanya setelah terpilih menjadi Presiden AS.

“Dia sedang mencoba meniru perannya dalam The Apprentice,” kata Hary bergurau, merujuk pada acara reality show televisi AS, The Apprentice, di mana Trump membintangi acara tersebut.

Melalui partai yang didirikannya, Perindo, Hary Tanoe juga sedang mempertimbangkan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden RI dalam pemilu 2019 mendatang.

Baca : Hary Tanoe Ingin Jadi Presiden RI

Meskipun kesepakatan bisnis Hary – Trump tidak terlalu banyak menyita perhatian publik AS, kini bisnis mereka mulai menjadi perhatian masyarakat. Terutama soal bagaimana keluarga Trump akan mengelola potensi konflik kepentingan atas semua investasi yang sudah dilakukan kerajaan bisnis Trump di kawasan Asia, Amerika Latin, hingga Eropa.

Pada pertengahan Desember 2016 lalu saat kampanye, melalui akun Twitternya, Trump sudah berjanji tidak akan membuat perjanjian bisnis baru. Dia juga telah menutup yayasan keluarga dan membatalkan beberapa proposal proyek seperti Trump Office Buenos Aires di Argentina dan Trump Riverwalk di India.

Financial Times  menyebut baik Hary dan Trump adalah dua orang pebisnis yang memiliki karakter mirip. Keduanya adalah negosiator bisnis yang agresif, sama-sama memiliki istri yang konsen di dunia kecantikan, serta memiliki kecenderungan bermain politik untuk memuluskan bisnisnya.

Jika membandingkan antara Hary dan dua putra Trump tentu berbeda. Eric dan Donald Jr adalah putra dari pengusaha real estat New York dan merupakan salah satu orang terkaya di kota tersebut.

Baca : Trump & Hary Tanoe Bangun Disneyland Bogor, Ini Kata MNC

Adapun Hary adalah konglomerat yang membangun bisnisnya sendiri, yang dirintis sejak sebelum krisis Asia pada 1997-1998 sebagai pialang. Melalui kepiawaian bisnisnya, Hary berhasil mengambil alih beberapa bisnis anak-anak Mantan Presiden Soeharto, seperti stasiun TV, dan kemudian merambah di bisnis jasa keuangan, properti, hingga jalan tol.

Hary menjamin tidak akan ada potensi konflik kepentingan dengan kerjasama proyek yang dia lakukan dengan Trump. Sebab Trump Organisation tidak menyuntikkan modal ke proyek tersebut. Selain itu, Trump sebelumnya sudah berjanji tidak akan ada kesepakatan bisnis baru, setelah dirinya menjabat Presiden AS.

Meski begitu, Hary mengharapkan kerjasamanya dengan Trump akan membantu mendorong peningkatan kerjasama Indonesia – AS. “Keputusannya untuk bekerjasama dengan perusahaan Indonesia adalah pertanda bahwa persepsinya soal Indonesia adalah positif,” ungkapnya.

Baca : Bertemu Donald Trump, Setya Bantah Difasilitasi Hary Tanoe

Kerjasama Jakarta – Washington selama ini memang berjalan mulus. Mulai soal kerjasama memerangi terorisme, hingga jumlah investor asal AS di Indonesia yang cukup signifikan, khususnya di sektor sumber daya alam. Beberapa perusahaan besar AS yang secara politik dinilai sensitif karena terkait dengan figur Trump. Di antaranya Rex Tillerson, kandidat Menteri Luar Negeri AS dan mantan CEO ExxonMobil, yang memiliki aset produksi dan eksplorasi migas di Indonesia.

Kemudian, miliuner dan aktivis, Carl Icahn, yang juga merupakan penasehat Trump adalah investor dengan jumlah saham signifikan pada Freeport-McMoran yang mengoperasikan tambang emas dan tembaga di Papua.

 

FINANCIAL TIMES | ABDUL MALIK

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me