Jakarta Belum Masuk Radar Investasi Orang-orang Ultrakaya Dunia

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Jakarta masih belum menjadi tujuan kalangan Ultra High Net Worth Individuals (UHNWI) atau orang-orang ultrakaya sebagai tempat tinggal dan investasi.

Hal itu semakin diperkuat dengan laporan Alpha Cities Index yang dirilis bersamaan dengan edisi pertama “Global Property Handbook” oleh Wealth-X, Warburg Realty, dan Barnes International Realty.

Dari 50 negara, dan kota dalam indeks tersebut, tidak ada nama Jakarta sebagai kota tujuan orang-orang ultrakaya membeli rumah.

Alasannya, Jakarta dan Indonesia dianggap belum memenuhi tiga indikator yang digunakan.

Indikator pertama adalah practical factors. Indikator ini terdiri dari empat sub-indikator, yakni konektivitas perjalanan melalui udara, keamanan individu, jejak hijau kota, dan kedekatan geografis dengan universitas terkemuka.

“Faktor-faktor praktikal ini berdampak siginifikan terhadap orang-orang ultrakaya untuk menancapkan investasinya dan tinggal dalam jangka waktu lama,” tulis laporan tersebut.

Jika dibedah satu per satu, dari empat sub-indikator tersebut Jakarta belum bisa dikatakan sanggup memenuhinya.

Orang-orang ultrakaya biasanya memilih kota yang memberikan kenyamanan ketika berpindah dari satu ke kota lainnya menggunakan pesawat.

Sementara bandara paling besar di Indonesia, yakni Bandara International Soekarno-Hatta justru ada di Cengkareng, Banten.

www.shutterstock.com Ilustrasi.

Arkian, jika ditilik dari segi keamanannya, Jakarta cenderung tak aman. Berdasarkan survei Economist Intellegence Unit dua tahun silam, Jakarta menjadi kota paling tak aman di dunia.

Selain itu, jejak hijau atau ruang terbuka hijau (RTH) masih minim dan belum sesuai dengan standar 20 persen seperti yang sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007.

RTH di Jakarta diakui Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Oswar Muadzin Mungkasa masih ada di angka sekitar 9-10 persen.

Aset kekayaan

Indikator berikutnya adalah emotional factor dengan sub-indikator berupa populasi UHNWI, cultural richness berupa museum dan restoran kelas atas, hotel bintang lima, serta pusat belanja mewah.

Menurut laporan tersebut, untuk meraih kesempatan sosial dan menambah jaringan, UHNWI cenderung memilih berada di sekitar orang-orang kaya dan sukses lainnya.

Jakarta, berdasarkan Laporan Kekayaan atau Wealth Report 2016 yang dilansir Knight Frank memiliki UHNWI dengan aset lebih dari 30 juta dollar AS hanya sejumlah 598 orang.

Jumlah itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan Tokyo yang memiliki populasi UNHWI sebanyak 6.050 orang.

Sementara dari segi jumlah pusat belanja mewah, Jakarta juga belum bisa menyediakannya bagi orang-orang ultrakaya.

Dalam catatan Savills PCI per 2015 silam, pusat belanja kategori mewah atau high end di Indonesia hanya ada lima yang seluruhnya terkonsentrasi di Jakarta.

Kelima pusat belanja mewah tersebut adalah Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Pacific Place, Plaza Senayan, dan Senayan City. Total luasnya sekitar 427.466 meter persegi.

Indikator terakhir adalah financial factors yang melihat bahwa kemudahan berbisnis, nilai properti, persaingan pajak properti, dan keamanan simpanan investasi sebagai faktor penting bagi orang-orang ultrakaya untuk menempatkan uangnya di salah satu kota atau negara.

Berdasarkan data teranyar Bank Dunia, kemudahan berbisnis di Indonesia pada 2017 naik ke peringkat 91 dari sebelumnya 106 pada 2016.

shutterstock Ilustrasi

Bank Dunia menyebut, Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan tingkat kenaikan terbesar.

Perbaikan peringkat kemudahan bisnis tersebut tercapai karena adanya reformasi untuk mempermudah memulai sebuah usaha, memperoleh sambungan listrik, dan membayar pajak.

Meski ada kenaikan peringkat, hal itu tak serta-merta langsung membuat Jakarta menjadi tujuan orang ultrakaya.

Pasalnya, dengan melihat stabilitas politik dan ekonomi saat ini, Indonesia dan Jakarta masih dianggap belum bisa memberikan keamanan bagi orang-orang ultrakaya ketika memutuskan membeli properti.

“Itu merupakan satu hal yang harus ada di pusat-pusat keuangan dunia terbesar di dunia yang bisa memainkan peran krusial dalam kesuksesan melakukan bisnis,” tulis laporan Alpha Cities Index.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me