Okupansi Rendah, Hotel Baru di Surabaya Justru Bertambah

Big Banner

SURABAYA, KOMPAS.com – Kompetisi bisnis perhotelan di Surabaya kian hari makin ketat saja. Terutama dalam tiga tahun terakhir. 

Bak cendawan di musim hujan, hotel baru dengan klasifikasi beragam, terus bertumbuh. Mulai hotel kelas bugdet, bintang 3, 4, hingga bintang 5. 

Hal ini menyebabkan tingkat hunian rata-rata harian atau average occupancy rate (AOR) terus merosot. 

Pada 2014, AOR tercatat 66,7 persen. Setahun kemudian relatif meningkat menjadi 69,4 persen. Tahun lalu, kembali turun menjadi 58,7 persen. 

Namun demikian, kondisi demikian tidak menyurutkan investor dan operator menggarap pasar ibu kota Jawa Timur ini.

Dalam laporan Colliers International Indonesia, tahun 2017 Surabaya bakal dipenuhi tambahan kamar sebanyak 2.817 unit dari 18 hotel baru.

Dari jumlah tersebut, hotel bintang 4 mendominasi dengan 1.509 kamar dari 8 hotel. Ke-8 hotel tersebut adalah Citadines @ Marvel City, Platinum Hotel, Novotel Hotel, Great Hotel, Mercure @ Praxis, Grand Dafam Kayun, Swiss-belhotel Surabaya, dan Howard Johnson. 

Arkian hotel bintang 3 dengan 5 hotel yang mencakup 648 kamar. Mereka adalah The Frontage, I&M Hotel, Goldvitel Hotel, Prime Biz Hotel, dan Namira Syariah Hotel.

Berikutnya Amaris Hotel Surabaya, Moxy Hotel, Batiqa Hotel, Surabaya River View, dan ibis Budget Surabaya yang masuk kelompok hotel budget dengan jumlah kamar 480 unit. 

Tentu saja, pertambahan kamar dalam jumlah banyak itu membuat PHRI Surabaya gerah. Pasalnya, perang tarif sudah terjadi dan semakin memprihatinkan.

Colliers menyebut tarif rerata harian atau average daily rate (ADR) terus menurun dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi sejak 2014, 2015, hingga 2016 menjadi hanya sekitar 45 dollar AS

Tak heran jika PHRI mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk membatasi pembangunan hotel baru (moratorium). 

Secara umum, menurut Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, karakteristik hotel di Surabaya mirip dengan Jakarta.

“Sebagai pusat bisnis untuk Kawasan Timur Indonesia, Surabaya jugatak lepas dari pengaruh penurunan ekonomi yang direfleksikan melorotnya nilai investasi. Ini juga yang berkontribusi terhadap rendahnya okupansi dan tarif hotel,” papar Ferry beberapa waktu lalu.

 

 

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me