Gubernur Jakarta Harus Paham dan Pro Tata Ruang

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Sebagai salah kota global, Jakarta dinilai telah banyak memiliki permasalahan cukup pelik.

Karena itu, dibutuhkan solusi guna menjadikan Jakarta sebagai livable city atau kota yang nyaman untuk ditinggali.

Menurut Ikatan Ahli Perencanaan (IAP), Jakarta saat ini termasuk dalam alpha world cities dan setara dengan Amsterdam, Los Angeles, Buenos Aires, dan lainnya.

Alih-alih nyaman untuk ditinggali, Jakarta justru mendapatkan skor cukup rendah sebagai kota yang ideal dan nyaman menjadi tempat tinggal bagi warganya.

“Data IAP Nasional 2014 indeks Jakarta sebagai kota yang nyaman ditinggali 62,14 dari poin 100. Masih di bawah rata-rata, tingkat kenyamanan tinggal di Jakarta masih rendah,” kata Ketua IAP DKI Jakarta Dhani Muttaqin, dalam dialog Menggagas Tata Ruang Jakarta Masa Depan, Jumat (27/1/2017).

Mulai dari kepadatan penduduk, keberagaman penduduk, kepemilikan kendaraan pribadi yang terlampau banyak hingga kurangnya infrastruktur penunjang aktivitas telah membuat Jakarta menjadi kota tidak ideal untuk ditinggali.

Salah pendekatan guna menata kota Jakarta adalah dengan membuatnya sebagai livable city dengan mengedapankan lima aspek.

“Pertama kolaborasi, kedua desain kota transformatif, tiga peran serta komunitas warga, keempat menciptakan sub-sub center baru, dan terakhir melibatkan komunitas,” imbuh Dhani.

Menurut Dhani, ke depannya, dalam membangun Jakarta diperlukan limitasi atau pembatasan. Wilayah Selatan tak boleh lagi mendapatkan tambahan pembangunan karena merupakan tempat serapan air.

Maka dari itu, pembangunan Jakarta ke depannya harus fokus di wilayah Utara, Barat, dan Timur. Selain itu, Jakarta juga memerlukan pemerataan pusat-pusat aktivitas.

“Penciptaan sub aktivitas ini sudah ada dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tinggal sekarang bagaimana caranya bisa berjalan. Gubernurnya harus paham tata ruang dan pro penegakan tata ruang di Jakarta,” tutur Dhani.

Kemudian, sambung Dhani adalah mengintegrasikan infrastruktur transportasi dengan wilayah Bodetabek dan mengimplementasikan konsep Transit Oriented Development (TOD).

“Penggunaan transportasi publik yang tengah dibangun, walaupun sangat terlambat dibanding negara asia tenggara lainnya tetapi sangat tepat, konsekuensinya adalah tumbuhnya pusat aktivitas di sekitar station,” pungkas dia.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me