Revitalisasi Malioboro Tahap II Bakal Habiskan Rp17 Miliar

Big Banner

sas.setup({domain:’http://adnetwork.adasiaholdings.com’,async:true,renderMode:0});

sas.call(“std”,{siteId:134986,pageId:749845,formatId:44269,target:”});

<a href=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?jump=1&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]&out=nonrich” target=”_blank”> <img src=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?out=nonrich&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]” border=”0″ alt=”” data-pagespeed-url-hash=”692936075″/></a>

YOGYAKARTA – Revitalisasi Malioboro tahap II akan dimulai Maret atau April 2017 dengan anggaran mencapai Rp17 miliar. Anggaran itu lebih sedikit dibanding tahap I yang mencapai Rp23,7 miliar. Revitalisasi tahap II dimulai dari Pasar Bringharjo sampai Titik Nol.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) Muhammad Mansyur mengatakan, pedestrian sisi timur yang akan direvitalisasi dimulai dari Pasar Beringharjo-Benteng Verdeberg-Monumen Sebelas Maret atau Titik Nol.

“Diperkirakan (proyek) fisiknya sekitar Maret atau April,” katanya, kemarin.

Menurut dia, pekerjaan fisik revitalisasi sisi timur Malioboro ini akan berbarengan dengan pekerjaan fisik pembangunan toilet mewah bawah tanah di kawasan Malioboro. “Dikerjakan secara pararel, tapi beda kontrak. Anggaran revitalisasi pedestrian Rp16-17 miliar, sedangkan anggaran untuk toilet bawah tanah sekitar Rp5-6 miliar,” jelas Mansyur.

Dia mengatakan, untuk persiapan pekerjaan fisik sisi timur Malioboro, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pendekatan kepada pedagang kaki lima (PKL) di area tersebut.

Sama seperti pada revitalisai tahap I lalu, saat pekerjaan fisik dimulai, seluruh PKL di depan Pasar Bringharjo, depan Benteng Vredeberg akan dipindahkan sementara. Mansyur mengakui, pemindahan PKL ini untuk memperlancar pekerjaan fisik. Pasalnya, kondisi saat ini sebagian besar bahu jalur pedestrian dipakai PKL berjualan. Ruang yang tersisa hanya sekitar 50 sampai 100 cm untuk pengunjung berjalan.

“(Pemindahan PKL) biar proses fisiknya lancar. Sekarang sedang kami pikirkan konsep penataannya,” tuturnya.

Menurut dia, dalam waktu dekat DPUP-ESDM DIY akan berdialog dengan paguyuban PKL bersama UPT Malioboro dan Pemkot Yogyakarta. Harapannya dalam dialog tersebut tidak muncul gejolak sehingga pembangunan bisa terlaksana sesuai harapan. Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta revitalisasi kawasan Malioboro bisa lebih cepat satu tahun dibanding yang direncanakan DPUP-ESDM yang menjadwalkan tuntas 2019. Revitalisasi sumbu filosofis Keraton Yogyakarta ini harus menjadi prioritas pembangunan.

Raja Keraton Yogyakarta ini mengungkapkan, revitalisasi Malioboro harus lebih cepat lagi bukan tanpa alasan. Pasalnya, dalam beberapa tahun ke depan masih banyak pekerjaan di tempat lain yang harus dilakukan. “Masalahnya masih banyak (pekerjaan) yang lain yang diperbaiki,” imbuhnya.

Dalam perencanaan DPUPESDM DIY, revitaliasi Malioboro berlangsung salam empat tahun, terhitung sejak 2016 sampai 2019. Pada 2016 pekerjaan yang sudah dilakukan adalah revitalisasi tahap I dimulai dari sisi timur depan Hotel Inna Garuda ke selatan tepat Pasar Bringharjo.

Pada 2017 pekerjaan tahap II di jalur pejalan kaki sisi timur Malioboro dari Pasar Bringhrajo ke selatan sampai Titik Nol. Di sisi barat dimulai dari Ngejaman sampai Titik Nol serta pembangunan toilet underground di depan Kantor Bank Indonesia.

Pada 2018 tahap III pekerjaan di jalur pejalan kaki sisi barat Malioboro dari depan Hotel Inna Garuda sampai Ngejaman serta pembanguan underpass penyeberangan dari Taman Parkir Senopati ke Taman Pintar. Sedangkan tahap IV dilakukan pada 2019 berupa penataan jalan Pangarukan dan Margo Utomo sisi barat dan timur.

(dhe)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me