Gerak Dinamis Kota Mandiri, Latah Karena Laba (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi Februari 2017 menurunkan ulasan tentang penegmabnagn kotamandiri. Disebutkan bahwa konsep pembangunan yang terukur membuat keberadaan kota-kota mandiri di Indonesia terus menunjukkan eksistensinya sebagai proyek masa depan bernilai Investasi tinggi.

Kota BSD City, salah satu prototype kota mandiri di Indonesia ini telah memasuki usia ke – 28 tahun,
sekaligus memasuki millenial baru yang penuh tantangan. Kawasan perumahan seluas 6000 hektar atau hampir dua kali dari luas Kota Yogyakarta ini telah berhasil melalui berbagai macam gejolak politik hingga ekonomi, termasuk menjadi saksi sejarah perkembangan industri properti di dalam negeri.

Mulai dikembangkan sejak 1989 silam, hingga kini ribuan rumah telah dibangun lengkap dengan beragam fasilitas penunjang di dalamnya. BSD City adalah satu diantara sekian banyak proyek perumahan berskala kota yang sukses dikembangkan pihak swasta di Indonesia. Keberadaannya bahkan turut mengilhami beberapa kelompok pengembang lainnya untuk terjun ke ceruk bisnis yang sama.

Sebut saja, Kota mandiri Cikarang Baru (5.400 ha), Lippo Cikarang (5.000 ha), Kota Tigaraksa (3.000 ha), Bintaro Jaya (2.300 ha), Citra Raya (2.750 ha), Bukit Sentul (2.000 ha), Kota Legenda (2.000 ha), Kota Baru Parahyangan (2000 ha), Lido Lake Resort (1.700 ha), Gading Serpong (1.700 ha), Puri Jaya ( 1.600 ha), Citra Indah ( 1.200 ha) serta kota-kota lainnya.

Dikembangkan sejak belasan tahun silam, sebagian besar kota-kota tersebut mampu mengulang kesuksesan layaknya BSD City. Meskipun, tidak sedikit yang pertumbuhannya justru stagnan, setelah para pengembangnya nyaris keok terhajar krisis saat 1998 silam. Ya, krisis, memang hampir embuat pengembangan proyek-proyek berskala kota tersebut nyaris bergeming. Membuat pembangunan fasilitas dan infrastruktur terbengkalai, padahal unit-unit residensialnya sudah terhuni ribuan orang. Alhasil, target penyelesaian pembangunan pun menjadi molor.

Telaga Kahuripan, Kota Baru Jonggol serta Lido Lake Resort, bisa dibilang beberapa diantaranya. Dampak krisis tahun 1998 silam memang membuat sebagian aktivitas pembangunan permukiman skala kota itu sempat terhenti, dan ternyata inilah yang mengubah” arah pengembangan bertahun kemudian. Antara belajar dari pengalaman atau mengejar ketinggalan pendapatan yang tertunda, sebagian pengembangan di kota-kota mandiri tersebut kini terus bertumbuh serta berlangkah-langkah lebih maju, bahkan menoreh hasil yang gemilang.

Pencapaian tersebut tentunya tak lepas dari berbagai terobosan yang dilakukan si pengembang agar positioning proyeknya tetap berada di posisi teratas. Misalnya saja, menawarkan konsep rumah custom house yang dapat disesuaikan dengan keinginan penghuninya, mengembangkan kawasan digital di dalam perumahan, mengembangkan produk hunian pin tar, mengembangkan jalur infrastruktur yang terintegrasi dengan kawasan luar hingga memilih bermitra dengan pengembang asing.

Tak hanya meng-upgrade konsep pembangunan hunian, fasilitas pun demikian. Tengok saja, sekolah berkelas internasional, rumah sakit bertaraf dunia, apartemen menjulang serta pusat belanja yang dirancang dengan konsep ekslusif untuk pemenuhan gaya hidup kaum urban yang membuat nilai kawasan tersebut jadi melonjak signifi kan.

Membangun proyek perumahan skala kota atau township memang tidak semudah menggarap proyek properti lainnya. Beberapa aspek sangat menentukan, seperti perencanaan, konsep, pendanaan, dan pemasaran. Inilah yang membuat keberadaan mega proyek tersebut mendapat perhatian besar dari berbagai pihak, terutama masyarakat. Pun demikian di kalangan pengembang, membangun kota mandiri prestisnya memang terasa lebih tinggi dibandingkan hanya membangun
proyek-proyek berskala kecil. MPI/Riz. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis.

mpi-update.com