Menilik Belanja Gaya Hidup di Mal-mal Jakarta

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – “Sekarang, orang-orang pergi ke mal nggak sekadar belanja baju, atau sepatu. Juga hiburan, salurin hobi, ngopi, meeting. Itu semua gaya hidup”.

Direktur PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Soegianto Nagaria mengutarakan hal tersebut kepada KompasProperti, Kamis (12/1/2017). 

Pernyataan Soegianto tak keliru. Dalam pengamatan KompasProperti, semakin banyak masyarakat, terutama kelas menengah dan menengah atas yang menghabiskan waktu di pusat belanja. 

Di salah kedai kopi Mal Pacific Place, Liberica, contohnya. Mereka terlihat menikmati sajian kudapan, kopi, dan materi percakapan dengan penuh antusias. 

Tak hanya itu, meja mereka penuh dengan perangkat gawai, kertas kerja, dan juga materi presentasi lainnya. 

Dina Indrawati, seorang di antara yang tengah menikmati kopi senja, Jumat (27/1/2017), mengatakan, melewati waktu dengan ngemall sudah termasuk rutinitas.

Ngemall di sini jangan diartikan belanja baju ya. Juga belanja kebutuhan lainnya yang menyangkut pekerjaan, atau memenuhi kebutuhan sosial,” kata karyawan yang berkantor di kawasan central busniess district (CBD) Sudirman ini.

Dina tak sendiri. Ada banyak orang seperti dia dengan motivasi beragam, namun satu benang merah, yakni membeli gaya hidup.

Mereka duduk di kedai kopi, restoran, atau lounge yang khusus disediakan perusahaan perbankan, atau maskapai penerbangan selama dua hingga maksimal empat jam.

Praktisi komunikasi, pengamat kehidupan sosial, dan juga pakar personal branding, Reza Setiawan menuturkan, penilaian terhadap seseorang saat ini ditentukan oleh aktivitas mereka sehari-hari. 

“Tampilan memang perlu, namun bagaimana, ke mana, di mana, dan apa yang dia lakukan sangat memengaruhi penilaian itu,” ujar dia.

www.shutterstock.com Ilustrasi.

Jadi, tambahnya, pusat belanja juga mengikuti pola perkembangan atau dinamika tren gaya hidup yang sedang berkembang.

Tak keliru jika para pengembang dan pengelola sekarang membangun atau bahkan mengubah konsep pusat belanjanya menjadi fasilitas gaya hidup.

“Tren ini akan terus berkembang, dan tidak akan pernah mati. Karena pergi ke pusat belanja itu orang mau too see and to be seen people juga,” kata Reza.

Terlebih jika pusat belanja yang disambangi masuk kategori mewah, atau elite, macam Pacific Place, Plaza Indonesia, dan Plaza Senayan. 

Tentu penilaian yang melekat pada mereka yang datang ke tempat-tempat tersebut adalah terkait prestise, kebanggaan, dan status sosial.

Wabah belanja gaya hidup ini juga “menyerang” kalangan menengah-menengah, dan menengah ke bawah. Tengok saja di mal-mal yang masuk kategori ini, lautan manusia terlihat hampir setiap hari.

Jumat-Sabtu-Minggu adalah saat-saat pemandangan antrean di restoran, kafe, dan juga bioskop menjadi sesuatu yang lumrah.

Direktur Pakuwon Group, pengelola Mal Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Plaza Blok M, A Stefanus Ridwan mengungkapkan, setiap hari mal kelolaannya tak pernah sepi pengunjung.

“Saat hari kerja atau weekdays, jumlah kunjungan sekitar 80.000 hingga 100.000 orang. Sementara saat akhir pekan bisa menyentuh 150.000 orang. Semua orang makan, minum, nonton, ketemu orang, arisan di mal,” papar Stefanus.

shutterstock Ilustrasi

Menurut riset JLL Indonesia, kebutuhan gaya hidup ini masih akan menjadi daya tarik utama, dan fokus perhatian para pengembang dan pengelola pusat belanja hingga beberapa tahun ke depan.

“Permintaan sektor makanan, dan minuman atau food and beverage (F and B), serta fast fashion, masih menjadi daya tarik utama bagi konsumen untuk menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan,” beber Head of Retail JLL Indonesia James Austen.

“Strong demand”

Riset JLL Indonesia mengungkapkan, selain F and B dan fast fashion, permintaan yang semakin menguat juga berasal dari bisnis kosmetik, dan hiburan.

shutterstock Ilustrasi.

Permintaan yang mengerucut ini berpengaruh terhadap eskalasi pasokan pusat belanja baru. Setiap tahun sejak moratorium diberlakukan secara tidak resmi pada 2011 lalu, pasokan pusat belanja tidak sefantastis tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi pusat belanja mewah, dan elite. Hingga kuartal IV-2016, tak ada pasokan baru pusat belanja kelas ini.

Sementara secara umum, pusat belanja eksisting di Jakarta seluas 2,88 juta meter persegi dengan tingkat okupansi mencapai 89 persen.

Adapun rata-rata harga sewa dasar pusat belanja di Jakarta saat ini berada pada angka Rp 489.717 per meter persegi per bulan di luar biaya servis yang mencapai Rp 113.960 per meter persegi per bulan.

Ke depan, hingga 2021, JLL Indonesia mencatat, akan ada tambahan pusat belanja baru seluas 0,14 juta meter persegi.

 

 

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me