Generasi Milenial Semakin Susah Beli Rumah, Kenapa?

Big Banner
Foto: Rumah123/iStock

Generasi muda Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai generasi milenial, akan semakin kesulitan membeli rumah di masa depan. Wow! Kenapa? Karena kenaikan gaji atau pendapatannya kalah cepat daripada kenaikan harga hunian. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

“Generasi milenium tidak bisa membeli atau mencicil rumah di dalam kota. Karena pendapatannya dalam 4-5 tahun bekerja hanya naik 10 persen. Tidak sebanding dengan kenaikan harga tanah yang bisa mencapai 15-20 persen,” kata Darmin, Kamis (2/2) di Jakarta, seperti dikutip dari CNNindonesia.com.

Baca juga: Cuma Kerja 8 Tahun, Lalu Pensiun Dini dan Traveling di Usia Milenial

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu berani memastikan bahwa jika kondisi tersebut tidak diantisipasi oleh generasi milenial dengan mencari pekerjaan yang berpenghasilan lebih besar atau tidak tergerak mencari rezeki tambahan dengan berbisnis, maka punya rumah selamanya tinggal mimpi.

Menurut Darmin, kesulitan membeli atau mencicil rumah bahkan kini sudah dialami oleh masyarakat Indonesia kelahiran periode 1980 hingga awal 2000-an.

“Jadi dalam beberapa tahun (ke depan) akan ketinggalan,” katanya lagi.

Supaya tak ketinggalan, jangan tunda lagi beli rumah. Kalau sekarang saja sudah susah untuk beli rumah, apalagi masa-masa nanti karena harga rumah terus menanjak, bukan?

Baca juga: 4 Tips Keuangan Agar Milenial Survive Sepanjang 2017

Agar generasi milenial bisa memiliki rumah pribadi, menurut Darmin, dengan membuka lebih besar akses bagi mereka. Pemerintah harus turun tangan menciptakan kebijakan ekonomi di bidang pertanahan. Salah satunya adalah dengan menyiapkan kebijakan tabungan tanah atau land bank bagi masyarakat perkotaan.

Di mata Darmin, masalah tanah saat ini bukan hanya penting bagi pertanian, melainkan juga bagi masyarakat miskin di perkotaan. Apalagi, dari total luas wilayah Indonesia sekitar 34 persen di antaranya merupakan tanah.

Akan tetapi, dari 34 persen tanah tersebut sebanyak 67 persen di antaranya merupakan hutan yang tidak bisa ditempati. Hanya 33 persennya yang merupakan lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai permukiman.

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me