Kawasan T.B. Simatupang Tak Lagi Jadi Favorit Pebisnis

Big Banner

TEMPO.CO, Jakarta – Lembaga Riset dan Konsultan di bidang properti Jones Lang LaSalle mencatat adanya penurunan tingkat okupansi atau keterisian gedung-gedung perkantoran di luar area atau non-Central Bussiness District (non-CBD) Jakarta di 2016.

Head of Research JLL, James Taylor, menuturkan tingkat keterisian gedung non-CBD berada di kisaran 76 persen, atau sekitar 100 ribu meter persegi. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan di 2015 dengan tingkat keterisian 80 persen, atau 125 ribu meter persegi.

“Tingkat penyerapan itu masih sedikit di luar rata-rata tingkat penyerapan di luar sentral bisnis Jakarta selama hampir sepuluh tahun terakhir, yakni 76 persen. Jadi masih cukup moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar James Taylor di kantor JLL, Indonesia Stock Exchange, Rabu, 1 Februari 2017.

Adapun untuk tingkat keterisian gedung di kawasan sentral bisnis Jakarta di 2016, sebesar 62 ribu meter persegi, dengan tingkat keterisian gedung lebih tinggi dibandingkan non-CBD, yakni 84 persen.

Penurunan angka keterisian di kawasan non-CBD hingga 76 persen itu akhirnya membuat harga sewa perkantoran di kawasan itu menurun. Misalnya saja di wilayah T.B. Simatupang yang mengalami penurunan pada kuartal IV 1,3 persen dari kuartal sebelumnya ke angka sekitar Rp 160 ribu per meter persegi per bulannya.

Terlebih ada beberapa gedung baru di kawasan non-CBD yang telah selesai pembangunannya di kuartal IV tahun lalu. Antara lain CIBIS Tower 9 di T.B. Simatupang, South Quarter Tower C di T.B. Simatupang, Taman Sari Parama Boutique Office di KH Wahid Hasyim, dan WIKA Office Tower di D.I. Panjaitan.

“Salah satu yang menjadi perhatian adalah di T.B. Simatupang. Perkantoran di luar CBD ini mengalami penurunan okupansi sekitar 66 persen karena adanya gedung-gedung perkantoran baru. Sehingga secara keseluruhan menurunkan tingkat okupansi di luar CBD,” ucap James.

James memperkirakan, jika dilihat pasokannya sampai 2018, diperkirakan pasar perkantoran akan menurun sampai titik terendah, di kawasan non-CBD. Baru pada 2018-2019, pasar di SCBD mulai membaik. “Sehingga harapannya jika kita bandingkan pasar perkantoran di dalam CBD itu lebih cepat recovery daripada pasar perkantoran di luar CBD.

DESTRIANITA

 

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me