Negara-negara Teluk Bangun Infrastruktur Kereta Rp 3.199 Triliun

Big Banner

KompasProperti – Sekitar 240 milliar dollar AS (Rp 3.199 triliun) proyek infrastruktur transportasi kereta dalam pembangunan di wilayah Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC), dengan 69 miliar dollar (RP 919,9 triliun) saat ini yang sedang berlangsung.

Hal tersebut diungkapkan Terrapin Middle, penyelenggara pameran Middle East Rail, yang akan diselenggarakan mulai tanggal 7 Maret hingga 8 Maret 2017 di Dubai.

“Dalam 10 tahun ke depan, kita akan melihat reformasi mobilitas di pasar negara berkembang,” kata Event Director of Middle East Rail 2017 Jamie Hosie.

Jalan perkotaan yang padat, meningkatnya populasi, dan kebutuhan koridor perdagangan yang mulus terus mendorong investasi besar di sektor infrastruktur berbasis rel.

Menurut laporan Terrapinn Middle East, Kerajaan Arab Saudi (KSA) dan Uni Emirat Arab (UEA) berada di atas semua negara GCC, dalam hal pengeluaran dana investasi untuk pembangunan kereta cepat.

Pada Januari 2017, KSA telah mendaftarkan nilai proyek pembangunan rel tertinggi yakni 50 persen, diikuti oleh UEA 18 persen dan Qatar 17 persen.

dohametrorail.com Stasiun Doha Metro

Proyek kunci di pasar KSA pada tahun 2017 adalah Zulfi-Al Majmaah Passenger Railway, North South Rail-Waad Al Shimal-Turaif-Al Jouf (ST320), dan Makkah Mass Rail Transit (MMRT)-Makkah Metro.

Investasi yang direncanakan senilai 30 miliar dollar (Rp 399,99 triliun) dalam jaringan kereta api UEA ini, meliputi di Abu Dhabi Metro dan Light Rail, dab SkyTranYas Island.

Tahap berikutnya dari jaringan nasional Etihad Rail, ekstensi Dubai Metro untuk Expo 2020 dan tahap baru dari Al Sufouh Tram.

Terkait eksibisi Middle East Rail, terdapat lebih dari 350 perusahaan konstruksi dan teknisi, kontraktor dan penyedia jasa, E2E dan operator internasional, serta ahli kereta api akan berpartisipasi.

Mereka menawarkan layanan, dan memainkan peran penting dalam sistem kereta api di masa depan.

Acara ini akan diselenggarakan melalui kemitraan dengan Kementerian Pembangunan Infrastruktur dan Otoritas Federal Transportasi’ Tanah & Maritim.

“Operator mencari sumber teknologi baru, mendidik staf mereka tentang praktik terbaik dan menemukan mitra yang sempurna untuk 2017,” kata Jamie.

Ada sejumlah kendala yang dihadapi pada proyek rel baru selain pembiayaan, seperti struktur operasional, keahlian teknologi dan dinamika politik lintas jaringan.

Untuk itu, ia mengaku telah menyesuaikan program selaras dengan pertumbuhan kebutuhan industri.

Jamie juga mengatakan pameran tersebut menyediakan sebuah platform untuk pemain kunci agar datang bersama-sama untuk belajar, memerluas jaringan dan menemukan peluang baru.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me