Ternyata, Pembebasan Lahan Lebih Lama dari Pembangunannya Loh!

Big Banner

sas.setup({ domain: ‘http://adnetwork.adasiaholdings.com’, async: true, renderMode: 0});

sas.call(“std”, { siteId: 134986, // pageId: 749845, // Page : ID_Okezone/okezone_outstream formatId: 44269, // Format : Video-Read 1×1 target: ” // Targeting });

<a href=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?jump=1&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]&out=nonrich” target=”_blank”> <img src=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?out=nonrich&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]” border=”0″ alt=”” /></a>

JAKARTA – Pajak progresif tanah menganggur diyakini membuat spekulan berpikir lebih panjang sebelum memiliki tanah. Pasalnya, selama ini spekulan yang membeli banyak tanah kemudian menjualnya menjadi jauh lebih mahal.

Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) REI Soelaeman Soemawinata mengatakan, dari sisi pengembang tanah dilihat sebagai bahan baku atau bahan dasar dari pengembangan. Membebaskan tanah pun dikatakannya butuh waktu yang panjang.

Raw materialnya tanah. Membebaskan tanah jauh lebih lambat dari membangun,” kata dia kepada Okezone saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Dia mengilustrasikan, pengembang yang benar biasanya mengajukan izin lokasi terlebih dahulu untuk membangun. Hal ini harus sesuai dengan tata ruang wilayah tersebut.

“Setelah itu ada masterplan, ada site plan. Pada saat izin lokasi baru membebaskan tanah berdasarkan masterplan yang mau dibentuk,” kata dia.

Hal itulah yang membuat pengembang berbeda dari spekulan. Pasalnya, spekulan tidak punya perencanaan apa pun tentang tanah yang dibelinya.

“Dia langsung membebaskan tanah saat pengembang mau membangun, kan tanah jadi naik,” kata dia.

Oleh sebab itu, yang mengambil keuntungan dari tingginya harga tanah dikatakan Eman adalah para spekulan, bukan pengembang. Sehingga, menurutnya, pemerintah perlu mengklasifikasi tanah-tanah yang akan dikenakan pajak progresif.

“Kalau kita membebaskan tanah ke masyarakat sebenarnya enggak ada masalah. Bisa kontrol harga. Dan masyarakat juga kita melihatnya apakah dia mau dibeli artinya mau pindah ke luar atau masih di dalam area. Kalau di dalam area kita sebut namanya relokasi,” katanya.

“Jadi kalau ada perencanaan itu target saya ke pinggir areal dalam areal kita, kemudian direncanakan tempat-tempat mereka tapi dia punya akses ke tempat kita. Jadi mereka merupakan bagian dari kita. Itu cara kita membebaskan tanah,” tukas dia.

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me