Perpres Penggunaan APBN untuk LRT Jabodebek Perlu Direvisi

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Pemerintah masih mencari opsi skema pembiayaan lain untuk pembangunan light rail transit (LRT) Jabodebek.

Pasalnya, Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dinilai tidak cukup membiayai keseluruhan pembangunan LRT yang diperkirakan menelan dana hingga Rp 22,5 triliun.

Baca: Proyek LRT Jabodebek Telan APBN Besar, Pemerintah Cari Opsi Pembiayaan

Padahal, selayaknya pembangunan rel di dunia, pendanaannya diwajibkan secara keseluruhan dilakukan oleh pemerintah.

“Dalilnya, pembangunan rel kota di mana-mana 100 persen pendanaannya lewat anggaran pemerintah. Bahkan, saat operasi pun 70 persen kereta api kota dunia disubsidi dari anggaran pemerintah,” tutur pengamat infrastruktur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Harun Al Rasyid Lubis, kepada KompasProperti, Rabu (8/2/2017).

Keputusan pemerintah untuk membiayai pembangunan LRT menggunakan APBN tercantum di dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 65 Tahun 2016.

Atas dasar perpres tersebut proyek dengan nilai Rp 22,5 triliun tersebut bakal dibiayai menggunakan APBN.

Namun, Harun menilai, sebelum menentukan akan menggunakan APBN, pemerintah semestinya juga melakukan audit terhadap kapasitas fiskal negara.

“Perpresnya sudah benar, tetapi dalam perumusannya harus diikuti dengan pemeriksaan kapasitas fiskal. Karena kalau fiskalnya tidak mampu tentu harus dirumuskan dengan cara lain,” jelas dia.

Lebih lanjut, Harun meminta pemerintah menunda perpres yang menyebutkan percepatan pembangunan LRT menggunakan APBN dan atau melakukan revisi terhadap hal tersebut.

“Karena jangan hanya agar presiden senang, aturan itu dibiarkan lolos. Walaupun itu diskresi presiden perlu tetap dikasih ruang, tetapi juga harus tetap melalui periksa tuntas kemampuan fiskal negara,” tambah dia.

Pembangunan LRT Jabodebek ini dibagi menjadi dua tahap dengan masing-masing tahapan terdiri dari tiga lintas pelayanan.

Tahap satu meliputi lintas pelayanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas (10,5 kilometer) dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer.

Sedangkan tahap dua lintas pelayanan CibuburBogor (25 kilometer), Dukuh Atas-Palmerah-Senayan (7,8 kilometer), dan Palmerah-Grogol (5,7 kilometer) sehingga menghasilkan total panjang 41,5 kilometer.

Rencananya, akan ada 10 stasiun pada tahap dua.

Jalur LRT Cibubur-Cawang dijadwalkan beroperasi pada akhir 2017, sedangkan Bekasi Timur-Cawang dan Cawang-Dukuh atas bisa beroperasi pada 2018.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me