Tren Bahan Bangunan, 2017 Mulai Bangkit ? (2)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Februari 2017 menurunkan liputan tentang tren banhan bangunan tahun 2017. MPI memprediksi tahun ini bahan bangunan akan menggeliat kembali seiring dengan mulai menggeliatnya bisnis properti.

Gejolak sektor properti yang melemah sejak mencapai puncaknya di tahun 2013 diharapkan mencapai titik terendahnya pada tahun 2016. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 2015, pencapaian beberapa perusahaan bahan bangunan di tahun 2016 lebih buruk.

Salah satunya adalah PT Surya Toto Indonesia Tbk yang mengaku baru merasakan dampak dari penurunan sektor properti pada tahun ini. Di tahun 2016, penurunan pendapatan Toto mencapai 8%. Padahal di tahun 2014 ke 2015, pertumbuhan pendapatannya mencapai 12%.

Namun, Setia Budi Purwadi, Direktur PT Surya Toto Indonesia Tbk optimistis tahun 2017 bisa lebih baik lagi. “Untungnya, proyek properti kami ha nya 30% dibandingkan ritel, jadi penurunannya tidak banyak. Kami berusaha hingga akhir tahun agar penurunannya di bawah 10%, jika bisa tetap di angka 8% saja,” ujar seperti dikutip dari Swa.co.id (15/11/2016).

Jika kinerja Toto baru mengalami sedikit goncangan pada tahun ini, maka industri keramik secara keseluruhan mendapatkan hantaman keras. Elisa Sinaga, Ketua Umum ASAKI (Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia) menyebutkan, hingga akhir tahun 2016, produksi keramik turun hingga 16%.

“Produksi dari 410 juta meter persegi dari tahun lalu, tahun ini hanya sekitar 350 juta meter persegi. Padahal kapasitas produksi kita total 550 juta meter persegi per tahun. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, 2014, penurunan produksi mencapai 20%. Bahkan, 5-6 pabrik keramik tutup di tahun ini,” ujarnya ketika ditemui di kantor Kanmuri di Jakarta Pusat.

Faktor utama dari hanya terpakainya 60% dari total kapasitas produksi industri keramik di Indonesia menurut Elisa adalah turunnya permintaan di dua tahun terakhir. Dari catatannya, tahun ini ada penuruan permintaan produk keramik antara 18-20%.

Oleh karena itu, banyak produk yang menumpuk di gudang sehingga produsen mengurangi produksi. Peringkat indonesia sebagai produsen keramik nomor empat di dunia juga telah melorot ke nomor tujuh di tahun ini.

Hal ini juga menunjukkan bahwa ekspor keramik dari Indonesia merosot tajam. Di salip oleh negara-negara seperti Spanyol dan Iran yang tadinya di bawah Indonesia. Selain itu, kondisi ekonomi dalam negeri eksportir keramik terbesar dunia, China dan India, juga sedang melambat. Sehingga mereka fokus ekspor untuk mengejar produksi, salah satunya ke Indonesia, dengan harga yang lebih murah. MPI/MRR. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis.

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me