Tren Bahan Bangunan, 2017 Mulai Bangkit ? (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Februari 2017 menurunkan liputan tentang tren banhan bangunan tahun 2017. MPI memprediksi tahun ini bahan bangunan akan menggeliat kembali seiring dengan mulai menggeliatnya bisnis properti.

Setelah mengalamai masa yang cukup sulit di beberapa tahun terakhir, pasar properti diprediksi lebih baik pada tahun depan. Ditopang indikator ekonomi yang positif dan siklus pasar properti yang memasuki fase rebound pada 2017.

Geliat pasar properti yang mulai bergairah ini tentunya akan berpengaruh terhadap industri ikutannya, termasuk bahan bangunan. Memasuki tahun 2017, para pengembang properti memiliki optimisme tersendiri. Bahkan, mereka yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) berani memprediksi ada pertumbuhan 15% pada tahun depan.

Menanggapi optimisme pengembang, baik distributor dan produsen bahan bangunan mengaku turut optimis menghadapi tahun Ayam Api ini. Setelah menghadapi tekanan berat dalam dua tahun terakhir, tentunya mereka sangat berharap segera mendapatkan angin segar.

“Sektor properti dan konstruksi yang tahun depan diprediksi lebih baik dan menggeliat, kami yakin akan meningkatkan permintaan dan kebutuhan akan bahan bangunan baik untuk pembangunan maupun renovasi rumah dan tempat usaha,” kata Idrus Widjajakusuma, Corporate Secretary PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSPA), perusahaan distribusi bahan ba ngunan Mitra10 kepada majalah Properti beberapa waktu lalu.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2016, CSAP membukukan Penjualan Rp 5,8 triliun atau tumbuh 10,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,2 triliun. Segmen Distribusi memberikan kontribusi 71 persen dari total penjualan konsolidasi, sedangkan untuk segmen Ritel Moderen berkontribusi 29 persen.

Dari segmen Distribusi Bahan Bangunan mengalami pertumbuhan 14 persen, pada pada Distribusi Consumer Goods/ FMCG bertumbuh 21 persen, sedangkan pada Ritel Moderen Mitra10, tumbuh 5 persen.

Catur menilai, pertumbuhan di kedua segmen bisnis ini terutama didorong oleh mayoritas pertumbuhan volume penjualan. Guna mengantisipasi peningkatan permintaan, perseroan menargetkan untuk menambah 26 toko Mitra10 lagi selama periode 2017-2020 sehingga nantinya perusahaan total akan memiliki 50 toko yang tersebar di seluruh Indonesia pada 2020.

Menurut Idrus, manajemen menekankan pada ekspansi strategis yang agresif pada tahun depan untuk mengantisipasi permintaan pasar properti yang kuat. Konsentrasi jaringan toko Mitra10 akan dikonsentrasikan di Jabotabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi.

“Kami akan terus meningkatkan pertumbuhan dengan memperkuat kinerja segmen distribusi khususnya di bahan bangunan, consumer goods serta ritel modern Mitra10,” papar Idrus. Senada dengan Idrus, Fransiskus, Direktur Utama PT BSS Products Distribution, distributor lebih dari 200 brand, juga optimis 2017 akan menjadi tahun yang baik. Terlebih ketika stabilitas kondisi politik sudah tercapai selepas rampungnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2017.

Daya beli masyarakat akan kembali pulih dan ekonomi akan bergerak positif. Dirinya beralasan, sejak tahun 2015 lesunya sektor bahan bangunan dikarenakan daya beli masyarakat yang kurang.

Kondisi ini dipicu oleh ekspor komoditas Indonesia yang turun drastis. Akibatnya harga komoditas yang bersangkutan jatuh. Otomatis pendapatan masyarakat yang bergantung kepada komoditas tersebut berkurang.

Sementara itu, untuk investor properti, seiring dengan kondisi ekonomi Indonesia dan juga global yang tidak pasti, mereka lebih banyak memilih untuk melihat situasi terlebih dahulu. Terlebih lagi kestabilan politik di dalam negeri juga sedang bergemuruh seiring adanya pilkada serentak 2015 dan 2017.

“Oleh karena itu, ketika kondisi politik sudah kembali stabil, saya optimis investor properti akan kembali bergerak. Terlebih lagi jika kondisi ekonomi juga terus membaik seiring dengan komitmen pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kondusif. Seperti suku bunga yang terus turun, tax amnesti dan yang lainnya,” terang Fransiskus.

Meski produsen menyambut baik datang nya tahun 2017, namun Mandiri Sekuritas menilai sektor bahan bangunan belum akan tumbuh subur. Bahkan, Liliana S. Bambang dan Ferdy Wan, analis Mandiri Sekuritas, menilai sektor bahan bangunan dapat tetap berada di posisi yang sulit pada 2017. Asumsi ini dikarenakan fakta kele bihan penawaran (oversupply) yang terjadi di lapangan saat ini.

Kecuali ada konsolidasi atau pertumbuhan permintaan yang kuat di tahun depan, pertumbuhan yang terjadi tidak akan terlalu signifi kan. Dalam kesempatan berbeda, analisa tersebut diamini oleh Thanit Chainartvorakul, Marketing Advisor dari PT. Keramika Indonesia Asosiasi Tbk, produsen dari KIA Ceramics. Kepada MPI, di tahun 2017, pertumbuhan sektor bahan bangunan, khususnya produk keramik, tidak akan terlalu besar. “Prediksi saya sekitar 5%,” katanya.

Thanit memaparkan, meskipun sektor properti akan tumbuh dua digit di tahun ini, namun melihat persaingan yang terjadi saat ini, sulit untuk bisa mengatrol pasar keramik dengan signifi kan. Seperti di ketahui, saat ini pemain lantai keramik jumlahnya ratusan. Belum lagi dengan banyaknya produk impor dari Cina yang membanjiri pasar beberapa tahun kebelakang. MPI/MRR
Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis.

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me