Kelakuan Penghuni Rusun; Buang Sampah Sembarangan dan Merusak Fasilitas!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia harus bekerja ekstra keras untuk menyosialisasikan hidup di rumah susun. Pasalnya, tidak mudah mengenalkan konsep hunian vertikal kepada masyarakat yang terbiasa memiliki rumah tapak. Mereka kerap melakukan tindakan-tindakan ceroboh dan tidak sesuai untuk hidup di rusun.

Kepala UPT BP Rusunawa Dinas Tata Kota Batam Muhammad Dicky mengungkapkan, seringkali penghuni nunggak  bayar uang sewa untuk kemudian lari. Tak jarang pula mereka mengancam pengelola rusun.

“Masalah-masalah sosial, keamanan, dan hal-hal lain itulah yang kerap dihadapi di lapangan. Kta sering diancam kalo nagih uang sewa,” ujar Dicky.

Hal serupa juga disampaikan Kepala UPT Rusunawa Gresik, Nursaadah. Dia mengungkapkan  beberapa tindakan mengganggu yang seringkali dilakukan oleh penghuni rusunawa.

Tindakan pertama adalah penghuni sering berbicara terlalu keras hingga mengganggu tetangga. Kedua, penghuni membuang sampah sembarangan dari ketinggian. Ketiga, kurangnya kesadaran penghuni menjaga kebersihan dan menjaga keutuhan fasilitas.

Kurangnya kesadaran juga terjadi dalam hal yang lebih besar, misalnya keengganan penghuni dipindahkan setelah batas waktu tinggalnya habis, bahkan juga pemindahtanganan rusunawa.

Namun, tidak semua tindakan penghuni rusunawa negatif. Pada dasarnya, manusia mudah beradaptasi jika punya niat untuk berubah.

Nursaadah menemukan bahwa penghuni rusunawa membuat sistemnya sendiri untuk bersosialisasi dan memenuhi kebutuhannya. Sebagai contoh, lantai dasar rusunawa di Gresik digunakan untuk area komersial. Beberapa penjual menjajakan makanan dan keperluan lain.

Penghuni rusunawa kemudian membuat sistem pengiriman dengan “mengerek” makanan atau keperluan mereka dari lantai bawah ke lantai atas. Sistem serupa juga digunakan untuk mengirim uang yang diperlukan untuk membeli barang.

“Di Gresik, lantai dasar menjadi tempat usaha. Kios toko, fungsinya bukan untuk hunian. Untuk penghuninya kalau membutuhkan kebutuhan sehari-hari belanja dengan cara seperti itu. Jadi, sudah menjadi kebiasaan,” ujarnya.

Sebagai catatan, hari ini, Senin (25/8/2014), Puslibang Sosekling Kementerian Pekerjaan Umum mengadakan acara klinik dan temu ilmiah. Acara yang akan disambung dengan kolokium keesokan harinya ini membahas masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam penyelenggaraan infrastruktur PU dan permukiman. Salah satu pokok bahasan yang disorot adalah hunian vertikal, khususnya rumah susun sewa (rusunawa).

Dalam kesempatan tersebut juga dikemukakan bahwa rusunawa sebenarnya dibangun untuk alasan luhur yakni menata lingkungan kumuh, menyediakan hunian sewa layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Namun, praktiknya harus dilakukan dengan konsisten. Tanpa konsistensi, penghuni rusunawa akan sulit menyesuaikan diri.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me