Mau Beli Mebel, Pilih Lokal atau Asing?

Big Banner

sas.setup({ domain: ‘http://adnetwork.adasiaholdings.com’, async: true, renderMode: 0});

sas.call(“std”, { siteId: 134986, // pageId: 749845, // Page : ID_Okezone/okezone_outstream formatId: 44269, // Format : Video-Read 1×1 target: ” // Targeting });

<a href=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?jump=1&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]&out=nonrich” target=”_blank”> <img src=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?out=nonrich&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]” border=”0″ alt=”” /></a>

JAKARTA – Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Kayu jenis ini paling banyak didapatkan di Indonesia. Bahkan, kualitas dan ketahanannya hingga saat ini diakui terbaik di mata dunia.

Sebagai salah satu negara penghasil kayu jati terbesar di dunia, masyarakat Indonesia pun dianugerahi oleh bakat dalam membuat ragam mebel. Untuk hal yang satu ini, jelas terlihat dari banyaknya pengusaha di Tanah Air yang mendirikan bisnis mebel yang terbuat dari kayu jati.

Perlahan namun pasti, bisnis mebel Tanah Air pun mampu memikat para konsumen mancanegara. Konsumen asing ini demi terbang ke Indonesia hanya sekadar untuk membeli mebel kayu jati antik yang awetnya bisa mencapai puluhan tahun.

Tepat sebelum memasuki era milenium, bisnis mebel di Indonesia mampu menggapai puncak berjaya. Para pengusaha pun meraup pundi-pundi untung besar-besaran. Setelahnya atau tepat ketika adanya krisis moneter di 1998, bisnis mebel kayu jati pun tergerus dan alhasil bisnis ini satu per satu pun menghilang.

Kini, cerita berganti. Bisnis mebel di Indonesia tak lagi sejaya seperti kala itu. Memasuki era pasar perdagangan bebas, kini mebel merek asing menggempur masuk ke Indonesia dan bahkan banyak masyarakat yang memiliki minat tinggi terhadap mebel asing tersebut.

Operational Director Informa Daniel Trisno mengatakan, di gerainya secara umum, sebanyak 30% produk mebel buatan lokal. Sementara sisanya berasal dari luar negeri, ada dari Eropa, Amerika dan Asia.

Banyaknya produk asing ini dikarenakan permintaan masyarakat yang cukup tinggi terhadap mebel impor. Padahal, menurut Daniel, mebel lokal juga mempunyai ruang untuk bersaing.

“Kita juga mencoba menyesuaikan apa yang diminta konsumen, makanya pasokan dari impor,” jelas dia.

Bahkan, salah satu peritel perabot rumah tangga asal Swedia IKEA, juga memiliki mebel buatan lokal. Namun, dari seluruh produk, hanya sekira 8% yang berasal dari lokal.

“Saat ini produk buatan Indonesia menempati 8% dari produk IKEA seluruh dunia,” kata General Manager IKEA Mark Magee.

Tak disangka, gempuran masuknya mebel merek asing tidak menjadi momok yang menakutkan bagi para pengusaha mebel Tanah Air.

Salah satunya adalah Nudin (37) yang sudah menggeluti bisnis mebel bernama Rambu Ata Art & Furniture selama 9 tahun. Soalnya, menurut dia, kualitas yang dihasilkan oleh mebel merek asing masih kalah jauh dibandingkan mebel buatan lokal.

Dari segi kualitas misalnya. Mebel kayu jati yang paling banyak diproduksi di Indonesia diakui internasional atas daya tahannya yang bisa mencapai ratusan tahun lamanya.

“Enggak ngaruh dan enggak khawatir (ada persaingan mebel merek asing). Mebel Indonesia punya ciri khas kayu jati yang kekuatannya beda dengan kayu mebel buatan asing,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone di toko miliknya, Jalan Kemang Timur 17C, Jakarta.

Bahkan, kata dia, rancangan mebel yang dihasilkan oleh merek asing biasanya cenderung modern, berbeda dengan mebel kayu jati buatan lokal. Namun, faktor ini sebenarnya jelas bergantung pada selera individu masing-masing. Diakuinya, masih banyak individu lokal maupun dari mancanegara yang masih meminati mebel terbuat dari kayu jati.

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me