Zaha Hadid Terus Dihantam Badai Kritik

Big Banner

KOMPAS.com – Martin Filler, kritikus arsitektur yang baru-baru ini dituntut kuasa hukum arsitek Zaha Hadid, akhirnya meminta maaf pada sang arsitek. Namun, publik justeru menyoroti langkah yang diambil pihak Hadid dan kembali mengkritiknya.

Sebelumnya, Filler menulis resensi atas buku bertajuk “Why We Build” karangan Rowan Moore. Alih-alih memfokuskan diri pada karya Moore, Filler dianggap lebih banyak mengomentari arsitek Zaha Hadid dan mengungkit-ungkit tanggapan Hadid terhadap pekerja konstruksi di Qatar.

Kuasa hukum Hadid, seperti dikutip Archdaily, menuntut Filler menarik kembali pernyataannya mengenai Hadid yang semula dia utarakan dalam resensinya. Filler dituduh telah membuat sang arsitek menderita “tekanan emosi dan tekanan fisik parah”.

Filler pun melontarkan permohonan maafnya. Namun, dia hanya mengungkapkan bahwa dia telah salah menyebutkan jumlah kematian.

Dia merasa telah tertukar dan menyebutkan jumlah kematian dalam proses konstruksi di Qatar selama 2012 hingga 2013 dengan jumlah kematian pekerja konstruksi di proyek Stadion Al Wakrah karya Hadid. Sementara itu, komentar Filler mengenai tanggapan dingin Hadid atas nasib pekerja konstruksi di Qatar tidak disentuhnya.

Bukannya bersimpati, kritikus lain justeru kembali mengkritik sang arsitek. Selama seminggu ini, sejumlah kritik kembali dilayangkan baginya. Para kritikus merasa, langkah pihak Hadid melayangkan gugatan merupakan ide buruk. Mereka pun memberikan beberapa alasan yang melatarbelakangi pandangan ini.

Pertama, langkah pihak Hadid malah membuat sang arsitek tampak egois.

“Ketika subyek kritik yang tidak senang atas kritiknya menuntut sang kritikus, orang-orang biasanya hanya melihat bahwa dia adalah orang yang manja dan egois,” ujar Paul Goldberger dalam artikelnya di Vanity Fair.

Kedua, ada juga yang memandang langkah dari pihak Hadid merupakan bentuk ketidakempatian dari sang arsitek. Anna Kats, yang menulis untuk Blouin ArtInfo, mengatakan bahwa “pekerja konstruksi yang bekerja di area Teluk (Arab) secara reguler terekspos pada bentuk tekanan lebih serius”. Kats mengatakan, para pekerja itu harus bekerja lebih keras untuk mewujudkan rancangan para arsitek.

Ketiga, tindakan kuasa hukum Hadid akan menambah sederetan pemberitaan buruk mengenai sang arsitek. Jika semula Hadid “hanya” berkomentar bahwa kondisi pekerja di Qatar bukan tugasnya, kini pihak Hadid memperkarakan komentar kritikus yang sebenarnya hanya bisa diakses segelintir orang.

Semula, untuk dapat membaca komentar Filler, siapa pun harus berlangganan NYRB. Namun, dengan langkah yang dilalui Hadid, kini siapa pun bisa menaruh perhatian pada komentar tersebut.

Keempat, kecil kemungkinan Hadid bisa memenangkan gugatan tersebut. Seperti dikutip dalam Archdaily, “Jika Hadid tidak bisa mendemonstrasikan bahwa komentar Filler berada di luar realita opini, maka kecil kemungkinan dia akan memenangkan kasus ini”.  

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me