Ketika Kebanggaan dan Kegembiraan Menyatu di Perbatasan

Big Banner

JAYAPURA, KompasProperti – “Saya bangga menjaga wilayah perbatasan Republik Indonesia”. 

Arisandi, salah prajurit yang menjadi garda depan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, menjawab KompasProperti, di Distrik Muara Tami, Jayapura, Minggu siang (19/2/2017).

Sandi, panggilan akrabnya, merupakan satu dari 18 prajurit TNI AD yang ditugaskan menjaga wilayah perbatasan Republik Indonesia dengan Papua New Guinea.

Rasa bangganya itu diucapkan dengan intonasi tegas, dan artikulasi jelas, sehingga bisa didengar oleh para pengunjung lainnya.

Tanpa mengubah sikap tubuh tegaknya, Sandi dengan ramah berkisah mengapa rasa bangga itu muncul.

Sebelum direhabilitasi, PLBN Skouw ini hanya berupa bangunan biasa, lebih mirip bedeng pekerja konstruksi. Kondisinya jauh dari bersih, apik, dan berwibawa sebagaimana bangunan representasi Negara berdaulat.

Namun kini, kondisi itu berubah 360 derajat. Bangunan modern berpadu ornamentasi daerah Papua dengan beragam fungsinya, siap melayani masyarakat yang hendak melintasi perbatasan negara.

“Saya sangat bangga. Lihat saja bangunan PLBN Skouw ini. Lebih megah, dan mentereng dibanding negara tetangga,” tutur Sandi seraya menggerakkan kepala dan ekor matanya ke arah pos perbatasan milik Papua New Guinea.

Hilda B Alexander/Kompas.com Gapura raksasa berhiaskan ornamen kedaerahan, ciri khas Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Jayapura, Papua.

Tak hanya itu, Sandi menyaksikan langsung peletakkan batu pertama pada 18 Desember 2015, dan ikut menjadi penjaga selama proses konstruksi berlangsung.

Jadi, ketika seluruh kompleks PLBN Skouw ini rampung setahun kemudian, Sandi merasa memiliki dan ikut bangga menjadi bagian dari perubahan ini.

“Kami tidak lagi kehujanan, kepanasan, kena debu, atau nyamuk malaria. Sekarang jaga perbatasan lebih banyak sukanya. Sering diminta selfie sama pengunjung. Pokoknya senanglah,” tutur lajang 26 tahun asal Medan ini.

Rasa rindu terhadap keluarga besar yang tak ditemuinya selama 7 bulan, mampu ditepis Sandi dengan melayani warga sebaik-baiknya. Seraya terus menyunggingkan senyum manisnya, dia menekankan, menjadi penjaga perbatasan bukanlah beban.

“Sebaliknya, kami harus melayani sepenuh hati. Harus ramah, tidak boleh angkuh,” sebut dia.

Sandi menuturkan, ada tiga regu yang ditugaskan menjaga PLBN Skouw. Masing-masing regu terdiri dari 6 orang dengan masa tugas 8 jam per hari.

Destinasi wisata

Kegembiraan tak hanya dirasakan Sandi, melainkan juga warga Distrik Muara Tami, Papua, dan dari belahan barat Indonesia yang sengaja berkunjung ke PLBN Skouw.

Mereka tertawa, dan antusias berbaur serta berfoto bersama Sandi dan lima prajurit TNI AD lainnya yang bertugas siang itu. 

Tulisan besar “Border Post of Indonesia”, “Skouw Indonesia”, serta Gapura Raksasa berhiaskan ornamen tangfa menjadi spot foto favorit para pengunjung. 

“PLBN Skouw bukan lagi sekadar pos perbatasan, melainkan juga destinasi wisata baru yang bisa dikunjungi warga kapan saja. Jauh dari kesan kaku, dan formal,” sebut Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XVIII Osman Harianto Marbun.

PLBN Skouw dibangun oleh kontraktor pelaksana PT Nindya Karya di atas lahan seluas 10,7 hektar dengan menggunakan dana APBN senilai Rp 165,994 miliar.

Hilda B Alexander/Kompas.com Tulisan besar

Teras negara ini dibagi menjadi tiga zona, yakni zona inti, zona sub-inti, dan zona pendukung.

Zona inti dirancang seluas 7.619 meter persegi dan terdiri atas beberapa bangunan utama PLBN, seperti klinik, gudang sita, bangunan jembatan timbang, dan check point.

Selain itu, terdapat bangunan utilitas, koridor pejalan kaki, bangunan sinar-X untuk mobil pengangkut barang, dan bangunan pelayanan terpadu kedatangan mobil kargo.

Sementara itu, zona sub-inti seluas 1.193 meter persegi, terdiri atas bangunan wisma Indonesia, mes karyawan, dan gedung serba guna.

Adapun zona pendukung seluas 1.300 meter persegi, dilengkapi restoran, ATM, masjid, gereja, pos polisi, dan lain-lain.

Desain PLBN Skouw di Papua mengadopsi desain bangunan rumah tangfa, rumah pesisir di daerah Skouw.

Rumah tersebut memiliki atap dengan bentuk perisai dan memiliki dua ruang panjang untuk masyarakat berkumpul, sedangkan bagian tengah berfungsi sebagai sirkulasi.

Biasanya, masyarakat menggunakan rumah tangfa untuk bersosialisasi, bernyanyi, dan mengerjakan kerajinan tangan.

Desain rumah tangfa dianggap lebih cocok diterapkan daripada rumah honai, dan rumah manokwari karena letak Skouw pada daerah pantai memerlukan bangunan yang lebih transparan terhadap aliran udara dan cahaya.

Hilda B Alexander/Kompas.com Pos perbatasan negara Papua New Guinea.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me