Ini Penyebab Banjir Jakarta Menurut UPC

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Organisasi masyarakat sipil Urban Poor Consortium (UPC) memaparkan sejumlah penyebab Jakarta yang kerap banjir saat diguyur hujan deras.

Di antara penyebab itu adalah 40 persen area Jakarta berada di bawah permukaan air laut.

Jakarta juga menghadapi risiko peningkatan muka air laut hingga 50 milimeter per tahun pada 2050.

Selain peningkatan mua air laut, juga tingginya curah hujan. Dibandingkan tahun 1990, curah hujan tahun kemarin jauh lebih tinggi.

Banjir Jakarta juga dipengaruhi oleh ombak tinggi. Selisih maksimum antara air pasang dan surut lebih dari 1 meter.

Ombak pasang yang bertepatan dengan musim hujan dapat menembus tanggul laut dan menyebabkan banjir ekstrem, seperti pada 2007 ketika separuh wilayah Jakarta terendam banjir.

Faktor lain yang menjadi penyebab banjir adalah karena rawa yang mengering. Sebagian besar wilayah Jakarta dahulu merupakan daerah rawa yang kini telah dikeringkan.

Setelah kering, area tersebut ditutupi dengan permukaan yang tidak dapat menyerap air seperti jalan dan rumah.

SBS Aji Banjir di depan mal Arion, Jakarta Timur, Selasa (21/2/2017).

Penurunan muka tanah pun memiliki pengaruh besar pada risiko banjir pada masa depan. Sejumlah area di Jakarta atau sebesar 40 persen kini tenggelam dalam 3-10 tahun akibat pengambilan air tanah yang berlebihan.

Akibat penurunan muka tanah ini bukan hanya banjir, melainkan akses air bersih masyarakat pun berkurang.

Banjir melanda Jakarta juga diakibatkan berkurangnya waduk atau danau. Padahal, waduk berperan vital dalam pencegahan banjir selama musim hujan dan penyimpanan air selama musim kering.

“Terdapat sekitar 800 waduk pada zaman Belanda, kini hanya tersisa 200 waduk dan danau,” tulis UPC.

Waduk yang tersisa ini berada di Kabupaten Bogor sebanyak 95 dam, Kota Bogor 6 waduk, Kota Depok 20 dam, Kabupaten Tangerang 37 dam, Kota Tangerang 8 waduk, Kabupaten Bekasi 14 dam, Kota Bekasi 4 waduk dan DKI Jakarta 16 dam.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Warga berjalan menembus banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Senin (20/2/2017). Banjir kerap terjadi menyusul meluapnya Kali Sunter yang melintasi Cipinang Melayu, ditambah, curah hujan yang tinggi sepanjang hari kemarin.

Dari 200 waduk, 80 persennya dalam kondisi rusak, terlalu dangkal, atau telah diubah menjadi area perumahan.

Selain itu, limpasan air dari Bogor dan Depok menjadi penyebab banjir di Jakarta terjadi.

Limpasan ini diakibatkan perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi kebun atau rumah pribadi di kawasan Bogor.

Idealnya, limpasan hujan terserap ke dalam tanah sebelum air sempat mengalir ke hilir.

Di Depok, populasi penduduk tumbuh dengan cepat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal terjangkau bagi warga Jakarta.

“Sebanyak 20 persen penduduk Depok adalah pekerja di Jakarta,” tulis UPC.

Semakin banyak rumah yang dibangun, akan lebih sedikit tanah yang dapat menyerap air. Dampaknya, limpasan air mengalir lebih cepat dari hulu ke hilir.

Penyebab banjir selanjutnya adalah sampah perkotaan. Sampah di sungai dan selokan dapat menyumbat pintu air dan infrastruktur kota lainnya yang dibutuhkan dalam mengontrol banjir.

“Sampah yang dihasilkan di Jakarta adalah 7.000 ton per hari,” tulis UPC.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me