32 Tahun Lalu, Waktu Tempuh Pasar Minggu-Manggarai Hanya 22 Menit

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Pertumbuhan kota yang pesat berpengaruh pada menurunnya aksesibilitas.

Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia pun mengalami pertumbuhan pesat yang berdampak pada kemacetan.

Dibandingkan 32 tahun yang lalu, waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya saat ini semakin melambat. Akibatnya, mobilitas pun terganggu.

“Sekarang waktu tempuh meningkat lebih dari 4 kali lipat. Dari Pasar Minggu ke Manggarai tahun 1985 hanya 22 menit dengan kecepatan 26,3 kilometer per jam,” ujar Ketua Bidang Transportasi Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta Reza Firdaus di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Menurut Reza, pada 2000, waktu tempuh rute ini bertambah menjadi 36 menit dengan kecepatan 16,1 kilometer per jam.

Lalu, 11 tahun kemudian, kecepatan kendaraan semakin melambat dengan rata-rata hanya 6,1 kilometer per jam.

Contoh lain, adalah waktu tempuh dari Cilandak ke Monas. Pada 1985, waktu tempuh hanya 38 menit dengan kecepatan 24,7 kilometer per jam.

Kemudian, pada 2000, kecepatan kendaraan kembali berkurang menjadi 49 menit dengan kecepatan 19,2 kilometer per jam.

Lalu, 11 tahun kemudian, kecepatan kendaraan di rute ini hanya 9,4 kilometer per jam dengan waktu tempuh 95 menit.

Kemacetan pada 2002 meningkat pada 2020. Pada 2002, jalur jenuh atau macet hanya di pusat kota Jakarta.

Sementara 2020, diprediksi macetnya sudah menyebar keluar DKI, seperti Depok, Serpong, Bintaro, dan Bekasi.

“Kalau kita lihat Google Maps, jalan-jalan merah terus. Adanya kemacetan berkelanjutan ini menyebabkan ekonomi biaya tinggi, sebagai pekerja rugi, apalagi pebisnis,” sebut Reza.

“Ini akibat terlalu besarnya penggunaan kendaraan pribadi dan rendahnya penggunaan kendaraan umum,” kata Reza.

Ia menambahkan, hal ini menunjukkan di Jakarta, warga naik kendaraan apapun salah. Jumlah kendaraan umum masih tidak mampu mengakomodasi padatnya penduduk di Jakarta.

“Kemacetan lalu lintas yang berkelanjutan menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan degradasi lingkungan,” tutur Reza.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me