BI: 5 Faktor Pengaruhi Sektor Properti

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Hasil survei Bank Indonesia (BI) tentang harga properti residensial di pasar primer  menemukan beberapa faktor yang bisa menjadi penghambat pertumbuhan bisnis properti. Faktor tersebut antara lain suku bunga KPR, uang muka (DP), perizinan, pajak, dan kenaikan harga bahan bangunan. Tingkat persentasenya masing-masing 19,91 persen, 18,3 persen, 16,15 persen, 13,7 persen, dan 13,5 persen.

Ilustrasi

Ilustrasi

Suvei tersebut juga menyebutkan sebagian besar pembelian rumah menggunakan fasilitas KPR (77,2%). Karena itu suku bunga menjadi faktor  dominan untuk seseorang memutuskan membeli property atau menunda.

Persentase penggunakan KPR naik dari tahun sebelumnya sebesar 74,7. Hasil survei BI ini tidak jauh berbeda dengan survei-survei lain yang menyebutkan 45 persen masyarakat tidak siap membeli properti karena alas an ekonomi.

Selain itu 34 persen masyarakat Indonesia menilai harga properti saat ini terlalu tinggi, sementara 34 persen lainnya menyatakan memiliki 1 properti saja sudah cukup. Harga juga menjadi pertimbangan penting bagi konsumen dan daya tarik lainnya adalah pengembangan infastruktur yang dibangun pemerintah.

Contohnya pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang tertunda sangat lama dari rencana awal.  Dengan dimulainya pembangunan jalan tol ini kini  pembangunan property di sekitarnya semakin semarak dan harganya semakin tinggi.  Hasil survei yang juga menarik adalah sebanyak 46 persen masyarakat percaya pemerintah sudah melakukan usaha cukup baik agar warganya bisa memiliki rumah. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 36 persen. Ini respon positif masyarakat terhadap kebijakan pemerintah khususnya di sektor perumahan.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me