Menjadi Hijau Saja Tidak Cukup

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Bangunan hijau (green) yang mengacu pada arsitektur ramah lingkungan di Asia belum cukup mengurangi dampak negatif bagi lingkungan. Begitu fakta yang diungkap oleh Dr. Nirmal Kishnani dalam bukunya Greening Asia (2012) yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Holcim Indonesia dengan judul Menghijaukan Asia (2016). Dalam perspektif Nirmal, bangunan yang telah menerapkan konsep ramah lingkungan belum cukup untuk mengatasi tantangan saat ini. Asia harus melangkah lebih dari sekadar pendekatan saat ini yang bersifat jangka pendek, dan menyasar pada hasil jangka panjang yang bersifat lokal serta bertumpu pada masyarakat.

Reklamasi area bekas tambang milik Holcim di Sukabumi menjadi hutan pendidikan berkonsep pembangunan berkelanjutan

Reklamasi area bekas tambang milik Holcim di Sukabumi menjadi hutan pendidikan berkonsep pembangunan berkelanjutan

Bagaimana upaya dari menghijaukan menuju keberlanjutan?. Sebuah bangunan dipandang hijau jika menyerap atau membuang kurang dari tolok ukur yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan, keberlanjutan lebih sulit untuk diukur. Tidak ada indikator sederhana yang menyimpulkan maksud berkelanjutan dalam bangunan. Prinsipnya, menjadi berkelanjutan berarti hidup dalam daya dukung planet kita, tidak menyerap atau membuang lebih cepat dari apa yang dapat digantikan atau diperbaiki secara alami. Dengan kata lain, tidak melakukan sesuatu yang merugikan.  “Kelihatannya rumit, tapi tidak. Intinya memberikan lebih dari yang diambil (dari alam, red.),” imbuh Associate Professor di Department of Architecture National University of Singapore, itu. Menurutnya, untuk menjadi berkelanjutan jangka panjang kita harus memikirkan nilai (value) yang akan kembali, bukan uang. Pada taraf hijau kita masih berhenti pada berapa modal (uang) yang dikeluarkan dan akan balik kapan. Sedangkan, untuk menjadi sustainable kita memikirkan apa yang bermanfaat bagi alam dan masyarakat, begitu juga sebaliknya. Arsitektur adalah hubungan timbal balik, tidak sekadar bangunan sebagai obyek tetapi hubungannya dengan lingkungan. Ia juga mengacu pada prinsip arsitektur harus membawa karakter lokal, memikirkan pemilik bangunan dan pemakainya. Jika hijau berhenti pada konsumsi dan efisiensi, maka berkelanjutan berarti memikirkan kembali batas kepemilikan, bercerita tentang gaya hidup dan budaya. “Sustainable is to be local,” ujar pria kelahiran Gujarat, India, itu.

Produsen semen Holcim menggandeng Nirmal sebagai salah satu juri untuk regional Asia Pasifik dalam ajang LafargeHolcim Awards (sebelumnya bernama Holcim Awards) yang tahun ini telah memasuki putaran ke-5. Kegiatan yang diselenggarakan oleh LafargeHolcim Foundation, organisasi nirlaba untuk konstruksi berkelanjutan, ini bertujuan ingin mendorong penekanan konsep berkelanjutan melalui penerapan lima kriteria atau 5 target issue yakni, Progress – inovatif dan dapat  dicontoh, People – etis dan melibatkan masyarakat, Planet – keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alam, Prosperity – layak secara ekonomi, dan Place – memenuhi unsur estetis. “Masyarakat yang berbondong-bondong pindah dari desa ke kota memicu maraknya pembangunan yang dapat berdampak langsung pada kualitas hidup dan lingkungan didalamnya. Cara kita merancang serta membangun  sangat  berpengaruh  terhadap  kehidupan  serta  ruang di mana kita  beraktivitas.  Karena itu kita menjalin kemitraan untuk mempromosikan konstruksi berkelanjutan di sepanjang rantai nilai dari desain hingga pembangunan,” ujar Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager – Holcim Indonesia & LafargeHolcim Awards 5th Cycle Country Coordinator.

Kompetisi terbagi dalam dua kategori, yaitu kategori utama dan Next Generation. Kategori utama dibuka bagi arsitek, perencana, insinyur, mahasiswa jurusan terkait, pemilik proyek, pengembang dan kontraktor, sedangkan peserta di bawah umur 30 tahun juga dapat mengirimkan konsep visioner dan ide beraninya melalui  kategori  Next  Generation  yang  khusus  diperuntukkan  bagi  mahasiswa  dan profesional muda. Masing-masing proyek yang didaftarkan dalam kompetisi ini harus telah mencapai tahap lanjutan dari sisi desain, memiliki probabilitas tinggi untuk dieksekusi, dan belum memulai proses pembangunan sebelum 4 Juli 2016.

Proyek Social Design, Urban Neighbourhood Remediation, Bandung karya Antonius Richard Rusli dan tim

Proyek Social Design, Urban Neighbourhood Remediation, Bandung karya Antonius Richard Rusli dan tim

Arsitek Ary Indra, pemilik firma arsitektur Aboday (Jakarta), yang pernah memenangkan  posisi ketiga dalam Kategori Utama pada Holcim Awards National Competition 2015 lalu, mengakui penghargaan ini  menjadi ajang menarik untuk mengedepankan karya yang mungkin sederhana, tapi sebenarnya punya dampak luar biasa secara positif terhadap konteksnya. “Lahir pengertian baru bahwa karya arsitektur yang peduli lingkungan tidak hanya berbicara tentang alam, tapi juga manusia, ekonomi dan bahkan keberlanjutan teknologi di dalamnya.” imbuh Ary.

Pemenang lainnya, arsitek Antonius Richard Rusli juga menanggapi bahwa, transformasi fundamental melalui desain partisipatif masyarakat menjadi elemen kunci dari keberhasilan proyeknya berjudul Social Design, Urban Neighbourhood Remediation di Bandung yang meraih posisi ketiga Holcim Awards 2014 Next Generation tingkat Asia Pasifik. Antonius dan timnya Kenneth Soewarto, Raymond San, Steve Soesanto dan Raynaldo Theodore merancang proposal perbaikan sebuah kampung kota di Bandung melalui peningkatan kondisi fisik dan sosialnya. Diantaranya, memperkenalkan desain sanitasi terpusat sebagai ruang publik di tengah kampung. Kemudian, memulihkan sungai yang terpolusi  selama bertahun-tahun sebagai tempat orang membuang sampah. Proyek menyediakan beberapa kebutuhan publik seperti, toilet umum, fasilitas pendaurulangan dan pusat belajar. Juri menilai proyek ini sangat baik visinya dalam merancang sanitasi sebagai  proyek arsitektural, urban dan sosial secara bersamaan. Desain infrastruktur juga dipandang memiliki dampak fisik dan sosial yakni, meningkatkan kualitas lingkungan dan juga hubungan masyarakat.

housing-estate.com