Mengenal Aturan Kepemilikan Properti Asing di Sejumlah Negara

Big Banner

Jakarta – Sektor properti kerap dijadikan instrumen investasi yang menggiurkan. Tidak hanya dilakukan oleh masyarakat lokal, hal tersebut juga digemari oleh kalangan Warga Negara Asing (WNA).

Sayangnya, ketertarikan WNA untuk berinvestasi di sebuah negara, sering terbentur dengan aturan yang berlaku di negara tersebut.

Ketika akan membeli properti di luar negeri, maka sangat disarankan untuk meminta bantuan dari agen real estate di negara yang dituju. Jangan lupa untuk mencari riset sebanyak-banyaknya mengenai hukum yang berlaku.

Berikut, sejumlah aturan pemilikan properti oleh orang asing di berbagai negara yang dilansir situs properti global, Lamudi, Minggu (5/3).

Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beragam aturan baru mengenai pemilikan properti oleh WNA di tahun 2016. Salah satunya,  properti yang di beli oleh orang asing hanya boleh dalam bentuk sertifikat HGB.

Kemudian, WNA juga hanya bisa membeli properti apartemen dan rumah tapak dengan harga tertinggi di suatu wilayah. Misalnya di Jakarta dengan harga Rp 10 miliar (rumah tapak) dan Surabaya Rp 5 miliar (rumah tapak).

Filipina

Filipina kini menjadi tujuan wisata dan tujuan investasi properti paling diburu tahun 2017. Properti di sini harganya murah namun tetap sangat berkualitas.

Berkat Condominium Act, WNA diizinkan membeli unit kondominium di Filipina. Meski begitu, pada proyek kondominium single tetap ada aturan yang berlaku bahwa minimal 60 persen proyeknya harus dimiliki oleh warga Filipina secara sah di mata hukum.

Regulasi ini diberlakukan untuk mencegah seorang WNA super kaya untuk membeli satu blok kondominium sehingga harga menjadi naik dan warga Filipina sendiri tidak kebagian. Pemilik unit bebas menjual dan merenovasi unit sesuka hati selama renovasi tidak mempengaruhi area apapun di luar batas unit mereka.

Sri Lanka

Dalam pengumuman anggaran belanja negara tahun 2017, Menteri Keuangan Sri Lanka mengumumkan bahwa negara itu telah melonggarkan hukum mengenai kepemilikan tanah untuk WNA. Pemerintah juga mengatur penghapusan pembatasan hak freehold‘ dimulai tahun 2017.

Selain itu, WNA yang ingin membeli properti di sini hanya bisa membawa uang maksimal sebesar US$ 45.000, tanpa perlu membawa dokumen mengenai asal uang tersebut. Pemerintah Sri Lanka juga tertarik dengan real estate investment trusts (REITS) dan ini merupakan langkah positif untuk menjadi pemain utama dalam pasar real estate Asia.

Myanmar

WNA dari negara manapun saat ini telah dberikan izin untuk membeli properti di Myanmar, sesuai dengan aturan diawal tahun 2016. WNA diizinkan memiliki gedung kondominium hingga 40 persen, dengan total lantai lebih dari 6 dan lahan lebih dari 20.000 meter persegi.

Namun, hukum yang berlaku juga menyebutkan bahwa warga asing tetap tidak diperbolehkan ‘mengelola’ kondominium. Hukum saat ini juga melarang WNA untuk membeli tanah.

sas.call(“std”, {siteId:135920,// pageId:756194,// Page : ID_Beritasatu/beritasatu_megapolitanformatId: 44269,// Format : Video-Read 1x1target:”// Targeting});

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me