Kehadiran Pengembang Asing Dianggap Menguntungkan Pemain Lokal

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Beberapa pengembang asing tercatat telah melakukan ekspansi dengan menggandeng pengembang lokal atau bersolo bisnis untuk membangun proyek propertinya di Indonesia.

Sebut saja Tokyu Land asal Jepang yang mengembangkan Branz BSD dan Branz Simatupang.

Kemudian ada juga pengembang asal China, China Constructions and Communications Group (CCCG) yang bercokol di Daan Mogot dengan pengembangan kawasan mixed use bernama Daan Mogot City.

Namun, salah pengembang besar Indonesia, Sinarmas Land menganggap masuknya pengembang-pengembang asing terutama dari Jepang dan China ke Indonesia sebagai hal yang tak bisa dikendalikan.

“Pilihan investasi mereka di dalam negerinya sudah sedikit, makanya ekspansi ke luar. Indonesia sebagai pasar yang seksi jadi pilihan buat. Ini faktor makro yang nggak bisa diatur dan ditolak,” kata CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land Ishak Chandra kepada KompasProperti, di Serpong, Kamis (1/3/2017).

Lebih lanjut Ishak mengemukakan, Sinarmas menganggap para pengembang asing yang masuk ke Indonesia tidak hanya sebagai kompetitor, melainkan juga sebagai mitra potensial.

Selain itu, pengembang asing mendorong pengembang lokal seperti Sinarmas dan lainnya lebih terpacu untuk membuat produk-produk lebih baik.

“Dengan banyaknya suplai, artinya mengharuskan pengembang lokal untuk lebih kreatif, inovatif, dan tak melulu ada di zona nyaman. Pengembang asing ini juga secara tak langsung membuat pasar lebih dinamis,” kata Ishak.

Dalam catatan KompasProperti, Sinarmas Land telah bekerja sama dengan sejumlah pengembang asing.

Dokumentasi Sinar Mas Land The Nove, Nuvasa Bay, Batam.

Nuvasa Bay di Batam merupakan proyek kerja samanya dengan pengembang asal Singapura bernama KOP Properties Group.

Di dalamnya terdiri dari apartemen, ritel, dan rumah tapak. Harga yang dipatok untuk landed residential serentang Rp 1 miliar hingga Rp 15 miliar per unit.

Sedangkan untuk apartemen strata atau kondominium sekitar Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar per unit.

Kerja sama lainnya juga dilakukan Sinarmas Land dalam pengembangan Superblok Tanjung Barat seluas 5,4 hektar.

Di sana, mereka akan membangun apartemen, dan ritel. Harga apartemen yang dipatok mulai dari Rp 30 juta per meter persegi.

Kerja sama yang dilakukan dalam Superblok Tanjung Barat adalah dengan menggandeng investor asal Jepang untuk mengembangkan ritel sama seperti pada proyek Sinarmas lainnya di BSD City, Kota Delta Mas, dan Cikarang.

properti.kompas.com