Tantangan Jasa Pengelolaan Gedung Makin Berat

Big Banner

Jakarta, mpi-update. Booming pembangunan hunian bertingkat atau apartemen di awal tahun 2000-an hingga sekarang, menciptakan lapangan kerja di bidang jasa pengelolaan gedung (property management) tumbuh sangat pesat. Dengan beroperasinya ratusan kawasan apartemen, perkantoran, dan superblok, jutaan tenaga kerja ikut terserap.

Namun ke depan, tantangan yang dihadapi para profesional di bidang jasa property management ini semakin berat, dan tidak banyak orang mampu menghadapi. Misalnya saja, mengelola apartemen berunit ribuan. Problem utama yang sering dihadapi oleh pengelola gedung adalah banyak pemilik/penghuni yang kurang memahami aturan tinggal di bangunan vertikal yang memiliki kepemilikan bersama (Tanah Bersama, Benda Bersama, dan Bagian Bersama).
Semua fasiltas bersama dan fisik gedung harus dirawat dan diperbaiki, karena jika rusak biaya yang dikeluarkan tidak murah, dan ini harus dapat dipenuhi dari iuran pengeloalaan lingkungan (IPL) dan/atau sinking fund dana cadangan.

“Meski setiap apartemen sudah memiliki “aturan main” yang biasa disebut house rules, namun sering tidak dijadikan pedoman oleh penghuni, mungkin karena kurang memahami peraturannya. Sehingga, banyak pelanggaran yang sebetulnya tidak perlu terjadi kalau para pemilik/penghuni paham betul aturan mainnya,” kata Bambang Setiobudi Direktur Inner City Management (ICM) di hadapan ribuan karyawan ICM, dalam acara puncak HUT ICM Ke-11, Sabtu, 4 Maret 2017, di Function Room, Seasons City, Jakarta.

Meski begitu, Bambang meminta kepada seluruh karyawan ICM yang kini berjumlah sekitar 9.000 orang untuk tetap semangat, dan menjadikan situasi seperti ini sebagai tantangan yang harus dicarikan pendekatan yang tepat. Baginya, dalam pelayanan jasa pengelolaan gedung hunian, komunikasi menjadi kata kunci keberhasilan. Property manager harus memiliki kemampuan lebih dalam mengelola komunikasi secara efisien dan efektif.

“Setiap karyawan badan pengelola dituntut mampu melibatkan pemilik dan penghuni dalam satu komunikasi yang akrab. Dimana penghuni merasa menjadi bagian dari keluarga besar apartemen, sehingga mereka terpanggil turut menjaga keamanan, kebersihan, dan kenyamanan tinggal di apartemen. Karena itulah, tema HUT ICM kali ini adalah ‘Bersinergi dalam Platform yang Sama’,” ujarnya.

Pecahkan rekor Muri

Menurut Evie S. Koordinator Komunitas ICM, langkah nyata sinergi antara pengurus PPPSRS (Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun), badan pengelola, dan pemilik/penghuni, adalah dengan dibentuknya berbagai komunitas-komunitas dengan latar belakang kesamaan hobi, salah satunya adalah Komunitas Senam Pilates, yang pada HUT ICM kali ini seluruh Komunitas Senam Pilates di bawah manajemen ICM (40 site), berjumlah lebih 1.721 orang ikut andil memecahkan Rekor MURI, dalam kategori Senam Pilates Terbanyak.

“Pecahan Rekor MURI adalah bukti kebersamaan dan kekompakan dari seluruh stakeholders (pemilik/penghuni, karyawan badan pengelola dan rekanan, serta pengurus PPPSRS), yang didukung penuh oleh ICM,” kata Evie seusai menerima piagam pemecahan Rekor MURI kategori Senam Pilates Terbanyak.

Evie mengatakan, keberadaan komunitas penghuni di lingkungan apartemen menjadi wadah kegiatan positif yang sangat membantu badan pengelola dalam menjalankan tugasnya. Komunikasi dengan penghuni akan berjalan dengan baik, sehingga jika ada keluhan dari penghuni dapat disampaikan dengan baik, dan saling mengerti.

“Tujuan utama dari pembentukan komunitas adalah untuk menciptakan hubungan yang harmonis di lingkungan apartemen. Karena itu, dalam setiap kegiatan positif, badan pengelola ingin merangkul dan melibatkan semua penghuni. Sambil bersosialisasi, juga dapat mempererat hubungan sebagai satu keluarga besar di apartemen masing-masing,” pungkas Evie.

Evie berharap, banyaknya kegiatan positif komunitas di apartemen-apartemen, menjadi nilai tambah baik bagi para pemilik/penghuni, maupun badan pengelola dalam menciptakan hubungan yang harmonis di antara mereka, sekaligus menjadikan apartemen-apartemen di bawah pengelola ICM berbeda dengan pengelola apartemen di luar ICM.
Berbasis ICT

Sementara itu, Mualim Wijoyo Chief Operating Officer ICM mengatakan, di tahun 2012 ICM sudah mengantongi predikat sebagai Pengelola Unit Rumah Susun Terbanyak versi Museum Rekor Indonesia (MURI). Saat ini ICM berkembang sangat pesat dengan mengelola sekitar 40 site (proyek) gedung residensial maupun komersial, yang tidak hanya dibangun oleh Agung Podomoro Group (AGP) sebagai induk perusahaan, tetapi juga beberapa gedung yang dikembangkan oleh developer lain.

“Core strategy ICM sebagai service company di bidang Integrated Property Service adalah berbasis ICT (Information and Communication Technology) dan win win collaboration dengan para rekanan specialist. Core strategy ini kami aplikasikan dalam program-program yang berbasiskan mobile application, yang tujuan utamanya untuk memudahkan pekerjaan di lapangan. Sekarang ini ICM sudah mengaplikasikan program-program E-Procurement, E-Payment, E-HRIS, E-STR/Checklist, E-Fit Out, dan lain sebagainya,” ungkap Mualim.

Acara HUT ICM Ke-11 ini juga dihadiri direksi APG, pengurus PPPSRS (Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun) di bawah kelolaan ICM, serta DPP P3RSI (Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Indonesia.

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me