Superblok Hanya Memenuhi Aspek Komersial

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Banyak yang salah dari pembangunan kota Jakarta dan itu sudah dimulai dari perencanaan. Rencana detil dibuat tapi menjadi sia-sia karena batasannya bisa dilanggar dengan dalih fleksibilitas. Pemerintah kota takluk dengan kemauan investor, padahal pemerintah punya kuasa untuk mengatur. Contohnya pembangunan superblok, kendati dampaknya terhadap lingkungan minim, lebih pertimbangan komersialisasi, sekarang malah semarak.  Demikian kesimpulan diskusi panel tentang “Mengkritisi Pengembangan dan Pengelolaan Superblok di Jakarta: Integrasi Internal dan Dampak Eksternal” yang diadakan Program Magister Teknik Perencanaan Universitas Tarumanagara, Jakarta, Sabtu (4/3).

Superblok

Superblok

Meyriana Kesuma, perencana muda dari Ikatan Ahli Perencana (IAP) DKI Jakarta, menyebutkan, soal superblok sudah diatur dengan jelas dalam undang-undang dan Perda tentang rencana tata ruang.  Tapi  regulasi itu baik di atas kertas, implementasinya tidak seperti itu. Pandangan senada dikemukakan Bambang Eryudhawan, Ketua Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta, yang mengatakan bahwa detil tata ruang kerap tidak berguna karena  pertimbangan fleksibelitas. Ia memberi contoh dalam RDTR (Rencana Detil tata Ruang) sudah ditentukan besaran KLB (Koeifien Lantai Bangunan), tapi  itu dapat diubah karena permintaan investor. “Kesannya RDTR itu jadi alat negosiasi karena pemerintah member pinalti dalam bentuk bermacam-macam,” ujarnya.

Masalahnya,  banyak kompensasi tidak digunakan untuk membangun di lingkungan proyek yang mendapat izin.  Akibatnya, kawasan sekitar proyek justru tidak mendapat manfaat.  Pembangunan superblok seharusnya bisa dilakukan tanpa melanggar dan membebani kawasan. Eryudhawan mencontohkan Rockefeller Center di Midtown Manhattan, New York, AS, di lahan seluas 8,9 ha dengan merangkum 19 gedung komersial. Pembangunan superblok ini tidak mengokupasi jaringan jalan sehingga masih bisa dilalui publik. Plazanya tidak pernah mengenal jam tutup, bahkan saat musim dingin sebagian plazanya dijadikan arena bermain seluncur es. “Artwork dan plaza-nya bahkan sudah menjadi icon Manhattan,” ungkap Eryudhawan.

Contoh lain, Library @Orchard di dalam Orchard Gateway shopping centre, Singapura. Perpustakaan yang fokus pada koleksi tentang desain, gaya hidup dan seni aplikasi ini mengambil dua lantai (1.700 m2) di mal.  Mal tersebut dibangun kongsi pengembang Oversea-Chinese Banking Corporation, Far East Organization dan United Engineers Limited.  Lokasi tersebut sebelumnya sudah berdiri pusat belanja lawas dan hotel. Oleh investor baru peruntukan lahannya ditambah dengan pusat belanja, hotel dan perkantoran. Sebagai kompensasi pengembang menyediakan ruang untuk perpustakaan tersebut dan beroperasi pada 2014. Sejatinya Library @Orchard tidak baru, tapi sudah ada tahun 1999 di Ngee An City, superblok lain di kawasan belanja Orchard, sayangnya tutup.

Peserta diskusi menilai pembangunan superblok di Jakarta menghilangkan ruang sosial lingkungan sebelumnya. Mungkin saja ruang tersebut masih ada tapi penggunaannya harus bayar, dibatasi waktunya, atau pakai syarat.  Ini bisa terjadi,  menurut Jo Santoso, Ketua Program Magister Planologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, karena oleh pengembang semua yang dibangun dikomersialisasikan.  Contohnya Tribeca, taman di Central Park, Podomoro City, Jakarta Barat, yang hanya bisa diakses dari mal. Jo menyebut ruang sosial bukan sekadar ruang terbuka untuk bermain, tapi ruang berinteraksi antarwarga. “Kalau mau disebut ruang terbuka harusnya bisa dimasuki publik kapan pun dan oleh siapa pun, bukan hanya oleh mereka dari kalangan tertentu,” tegasnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me