KPR Mikro, Ini Penyebab Rumah Rp75 Juta Tak Dilirik Pengembang

Big Banner

sas.setup({ domain: ‘http://adnetwork.adasiaholdings.com’, async: true, renderMode: 0});

sas.call(“std”, { siteId: 134986, // pageId: 749845, // Page : ID_Okezone/okezone_outstream formatId: 44269, // Format : Video-Read 1×1 target: ” // Targeting });

<a href=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?jump=1&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]&out=nonrich” target=”_blank”> <img src=”http://adnetwork.adasiaholdings.com/ac?out=nonrich&nwid=2060&siteid=134986&pgname=okezone_outstream&fmtid=44269&visit=m&tmstp=[timestamp]” border=”0″ alt=”” /></a>

JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk baru-baru ini menggencarkan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Mikro yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan tidak tetap atau pekerja informal.

Direktur Consumer Banking Bank BTN Handayani pun mengatakan, pihak pengembang masih belum cukup menunjukkan ketertarikannya untuk terlbat dalam penyediaan rumah KPR Mikro.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembangan Perumahan & Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdilah pun mengungkapkan alasan pengembang masih cenderung pasif untuk terlibat dalam penyediaan rumah KPR Mikro.

“Kalau menurut saya mungkin juga bisa tertarik bisa enggak, karena memang 1 ya mencari lahan yang murah itu susah,” katanya dihubungi Okezone, Kamis (9/3/2017).

Dia pun menyatakan, agak sulit untuk menjual rumah di bawah Rp75 juta seperti yang dibanderol melalui KPR Mikro, sebab harga tanah tak memungkinkan untuk bisa menyediakan rumah dengan harga tersebut.

“Menurut saya kalau harga tanah Rp50 ribu per meter dengan harga jual rumah Rp75 juta maksimal itu saya pikir betul-betul developer itu untuk menjadi developer sosial. Kalau berharap margin ya rasanya nggak mungkin,” ujarnya.

Maka itu, ia pun berharap keterlibatan pemerintah dapat memecahkan solusi mahalnya harga tanah yang menghambat minat pengembang terlibat dalam penyediaan rumah bagi pekerja informal ini.

“Karena tergerus oleh harga tanah. Contoh mungkin Rp50 ribu. Saya pikir dengan tipe 36 rumah yang sangat sederhana pun saya pikir agak keberatan kecuali memang campur tangan pemerintah dalam penyediaan lahannya,” lanjutnya.

“Tipe 36 itu harga bangunan rata-rata kurang lebih Rp1,5 juta per meter. Artinya kalau dikalikan jadi Rp40 jutaan ya. Nah sementara kalau harga tanah itu mencapai Rp50 ribu ke atas saya pikir sulit ya,” tambah Junaidi.

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me