Bisnis Tambang Anjlok, Rumah Subsidi di Balikpapan Naik Daun

Big Banner

BALIKPAPAN, KompasProperti – Seiring anjloknya bisnis tambang dan minyak dalam tiga tahun terakhir, daya beli masyarakat Balikpapan, Kalimantan Timur, pun ikut melorot.

Hal ini memaksa para pengembang properti mengubah strategi. Mereka tidak lagi berharap banyak dapat mendulang penjualan dari properti komersial berharga tinggi, melainkan dengan mengembangkan rumah murah, dan subsidi.

Strategi ini ditempuh agar roda bisnis perusahaan tetap berjalan. Lagipula, kebutuhan rumah murah dan subsidi masih belum terpenuhi maksimal.

Alhasil banyak pengembang Balikpapan, maupun pengembang nasional yang beroperasi di kota terbesar kedua Kalimantan Timur itu berlomba membangun rumah murah dan subsidi.

Menurut Kepala Dinas tata Kota dan Perumahan Balikpapan Ketut Astana, luas tanah yang ditawarkan sangat mungil yakni 60 meter persegi. Sementara luas bangunan sekitar 36 meter persegi.

“Rata-rata tipe 36 dengan luas tanah 60 meter persegi, sesuai batas minimal dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” kata Ketut kepada KompasProperti, Selasa (7/3/2017).

Pemerintah Kota Balikpapan sendiri tidak mengatur batasan ukuran minimal tanah untuk perumahan.

“Bila dibatasi akan memberatkan pengusaha. Di sinilah strategi mereka,” tambah Ketut.

Potensi pasar rumah murah dan rumah subsidi sangat besar di kota ini. Tahun lalu, pengajuan yang masuk sedikitnya berjumlah 14.000 unit yang terdiri dari 10.000 rumah subsidi dan 4.000 rumah sederhana non-subsidi.

Sementara yang mampu direalisasikan baru 4.000 unit rumah subsidi.

Pembangunan perumahan ini tersebar di 20 lokasi baik di Kecamatan Balikpapan Utara maupun Balikpapan Timur.

Harga yang dibanderol sekitar Rp 128 juta pada 2016, dan kini menjadi Rp 135 juta.

“Sementara rumah sederhana komersial dipatok hingga Rp 300 juta per unit,” kata Wahyudi Irianto, Kepala Bidang Perumahan.

Rumah menengah

Sebelum pengembangan rumah murah dan rumah subsidi naik daun, peminat rumah menengah dengan harga Rp 400 hingga 500 juta mendominasi pasar pada kurun 2013.

Terdapat 19 pengembang yang mengajukan rencana membangun hingga 5.000 kapling pada tahun itu.

Setahun berikutnya, ada 34 pengembang yang mengajukan rencana membangun 10.000 rumah.

“Rumah subsidi saat itu menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), tidak ada peminatnya di Balikpapan,” kata Edi Sahputra, Kepala Seksi Perencanaan Pengembangan Perumahan.

Namun dampak krisis dan anjloknya bisnis tambang-minyak, makin dirasakan pada 2015 hingga kini.

Pembangunan rumah kelas menengah pun terhenti. Sejumlah 38 pengembang kemudian mengajukan rencana membangun perumahan murah dan subsidi sebanyak 14.000 unit

“Pengusaha untuk rumah kelas menengah bahkan turun ke rumah murah,” kata Edi.

Situasi belum berubah hingga dua bulan pertama tahun 2017. Saat ini baru 4 pengembang yang mengajukan rencana membangun 1.500 unit rumah murah bersubsidi.

 

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me