KPR Dalam Genggaman Tangan

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Jakarta, housing-estate.com–Anna Amanda (27), salah satu nasabah KoinWorks di Jakarta, merasa sangat terbantu dengan keberadaan perusahaan yang memfasilitasi penyaluran kredit antar-warga melalui aplikasi teknologi finansial (tekfin) itu. “Saya belum punya aset apa-apa yang bisa jadi agunan untuk mengajukan kredit ke bank. Tapi, dengan usaha yang saya miliki dan bisa saya buktikan keberlanjutannya, ternyata saya bisa dibiayai (pemilik dana melalui KoinWorks). Saya tidak menduga,” kata pemilik usaha rintisan (startup) di bidang pemasaran cokelat @chocolatefountainjkt itu seperti dikutip Kompas, Senin (20/2/2017).

KPR BTN Digital: Digital banking mengubah cara berpikir dan melakukan transformasi proses bisnis mengikuti perubahan pasar dan perkembangan teknologi. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate).

KPR BTN Digital: Digital banking mengubah cara berpikir dan melakukan transformasi proses bisnis mengikuti perubahan pasar dan perkembangan teknologi. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate).

Pernyataan Anna itu menggambarkan perubahan di bisnis keuangan di Indonesia dalam dua tahun terakhir. Melalui teknologi informasi dengan aplikasi online atau daring (dalam jaringan), perusahaan seperti KoinWorks mempertemukan pemilik dana atau kreditur (investor) dengan calon peminjam (debitur) yang sudah terdaftar di platform digitalnya. Layanan keuangan pun menjadi lebih langsung (peer to peer lending) layaknya pinjam meminjam uang antar-tetangga atau teman, mudah, efisien, dan cepat tanpa perlu tatap muka. Kredit bisa cair hanya dalam 1–2 hari kerja dengan bunga lebih kompetitif (mulai dari 0,9% per bulan).

Jangan heran seperti ecommerce, bisnis tekfin (jumlah perusahaan, para pihak yang terlibat dan dana kelolaan) cepat melesat. Kalau tahun 2015, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaannya baru USD12 miliar (sekitar Rp156 triliun), tahun lalu sudah USD15 miliar, dan tahun ini diperkirakan meningkat menjadi USD18,6 miliar sebelum akan menjadi USD37,15 miliar (sekitar Rp483 triliun) tahun 2021.

Untuk meminimalisir risiko, perusahaan tekfin menyediakan sistem mitigasi yang ketat sebagai bahan bagi investor untuk menilai profil risiko calon debitur sebelum memutuskan membiayainya. Profil risiko itu sekaligus menjadi dasar penentuan tingkat bunga pinjaman yang akan dikenakan pada debitur. Target perusahaan tekfin tidak hanya usaha kecil menengah (UKM) tapi juga perorangan terutama karyawan. Bagi karyawan, kredit umumnya dipakai untuk biaya pendidikan anak, renovasi rumah, dan lain-lain.

Untuk menilai profil risikonya, investor mempelajari rekening tabungan si karyawan dan profil perusahaan tempatnya bekerja. Perusahaan tekfin juga menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut. Tak ada keharusan debitur menyampaikan sertifikat tanah dan bukti IMB (Izin Mendirikan Bangunan), kecuali salinan SK pengangkatan sebagai karyawan, slip gaji, dan rekening tabungan. Mirip menggadaikan SK ke bank oleh banyak pegawai negeri sipil (PNS) untuk mendapatkan kredit pembangunan atau pemilikan rumah (KPR).

Kapan saja di mana saja

Tekfin sudah dan akan mengubah drastis cara orang mendapatkan pinjaman, melakukan pembayaran, mengirim uang, sampai berinvestasi. Orang tak perlu lagi datang ke kantor bank. Layanan perbankan ada di genggaman tangan. Kemudahan akses, kecepatan, kenyamanan, dan kemandirian menjadi kata kunci layanan keuangan digital itu. Tekfin menggoyang kemapanan bisnis perbankan, seperti media daring, buku digital, musik dan film yang bisa diunduh langsung dari Internet, taksi daring, dan media sosial mengguncang bisnis media cetak, buku, musik, dan taksi.

Jika fungsi utama perbankan menerima simpanan, memberikan pinjaman, dan memfasilitasi pembayaran, perusahaan tekfin sudah memreteli fungsi itu secara terpisah lewat aplikasi teknologi digital terkini. Bahkan, dalam jangka menengah panjang perusahaan tekfin bisa mengempiskan fungsi bank dalam menerima simpanan, karena misalnya, sebagian pemilik duit lebih tertarik menyalurkan dananya langsung ke calon peminjam melalui perusahaan tekfin ketimbang menyimpannya di bank.

Karena itu bank-bank harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Termasuk bank penyalur kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) seperti BTN yang 9 Februari lalu berulang tahun ke-67, dengan misalnya menerapkan digital banking agar akses pasar terhadap produk-produknya menjadi lebih mudah dan cepat. Digital banking adalah layanan berbasis media digital yang memungkinkan nasabah secara mandiri, mudah dan lebih cepat mendapat informasi tentang produk bank, melakukan komunikasi-konsultasi-simulasi-registrasi, mengajukan aplikasi, bertransaksi dan melakukan pembayaran. Bentuk produknya bisa beraneka seperti mobile banking, internet banking, video banking, dompet elektronik, cash recycle machine (CRM) yang bisa menerima/mengeluarkan uang selain sarana transaksi non tunai, dan lain-lain.

Dengan digital banking nasabah bisa mengakses produk BTN di mana saja, kapan saja, selama 24 jam melalui semua channel tanpa harus datang ke ATM atau kantor cabang terdekat. Melalui gawainya nasabah tinggal membuka situs jual beli rumah, mengakses situs bank, melakukan simulasi cicilan sesuai penghasilan dan harga rumah yang dipilih, memesan rumah yang cocok dengan profil penghasilannya, membayar uang muka ke pengembang rumah atau penjual, mengajukan aplikasi KPR ke bank yang dipilih, mengirimkan copy identitas, surat pengangkatan sebagai karyawan, slip gaji, bukti pembayaran uang muka, dan lain-lain lewat email, dan beberapa saat kemudian sudah mendapat kepastian: permohonan KPR-nya diterima atau ditolak. KPR sudah ada dalam genggaman tangan mereka.

Seorang bocah yang asyik dengan gawainya di sebuah pameran perumahan di Jakarta beberapa waktu lalu: Generasi milenial akan disusul dengan i-generation atau Generasi Internet (lahir 1995–2010) dan Generasi Alpha (lahir 2011–2025) yang sudah hidup dengan gadget, Internet dan berbagai aplikasi komputer sejak bayi, dan karena itu lebih sedikit berkomunikasi secara verbal. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate).

Seorang bocah yang asyik dengan gawainya di sebuah pameran perumahan di Jakarta beberapa waktu lalu: Generasi milenial akan disusul dengan i-generation atau Generasi Internet (lahir 1995–2010) dan Generasi Alpha (lahir 2011–2025) yang sudah hidup dengan gadget, Internet dan berbagai aplikasi komputer sejak bayi, dan karena itu lebih sedikit berkomunikasi secara verbal. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate).

Keniscayaan

Tapi, lebih dari sekadar memudahkan akses terhadap KPR, digital banking merupakan keniscayaan bisnis bank (dan hampir semua bisnis lain) pada masa kini bila mereka ingin tetap eksis. Pasalnya, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (TIK) yang pesat dalam dua dekade terakhir melahirkan apa yang disebut dengan generasi Y (Gen-Y) atau generasi milenial. Kini generasi yang lahir awal 1980 sampai pertengahan 1990-an yang kesehariannya tak pernah lepas dari gadget dan Internet itu mulai masuk dunia kerja. Tahun 2020 mereka akan mendominasi angkatan kerja Indonesia yang populasi usia produktifnya akan mencapai 70% dari total penduduk.

Tahun 2015 saja menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah Gen-Y itu sudah mencapai 84 juta atau 50% dari populasi usia produktif (15–64 tahun). Mereka adalah bagian dari pemilik ponsel dan pelanggan seluler yang mencapai 339 juta (2015) dan sangat aktif di media sosial (medsos). Mengutip Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tahun lalu lebih dari 130 juta dari pelanggan seluler itu adalah pengguna Internet dengan akses rata-rata 3,5 jam/hari. Sebanyak 48% mengaksesnya lewat smartphone, 50,7% dari PC (personal computer) dan piranti genggam, 1,7% dari PC saja.

Karena sudah akrab dengan gadget dan Internet sejak krucil, pola komunikasi Gen-Y berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen-X). Mereka lebih sedikit bicara  verbal. Komunikasi dan akses informasinya lebih banyak lewat channel seperti email, SMS, instant messaging, media daring dan sejenisnya, dengan piranti mobile atau bukan. Mereka ingin serba mudah-cepat-praktis dalam segala hal, selain lebih bebas dan terbuka, egaliter dan tidak formal. Karena itu digital banking penting bagi Bank BTN agar tetap bisa melayani pasar besar itu. Mereka umumnya calon pembeli rumah pertama untuk dihuni sendiri (end user), segmen pasar yang selama ini menjadi fokus Bank BTN.

Gen-Y akan segera disusul dengan Gen-Z atau Igeneration alias generasi Internet (lahir 1995–2010) dan Gen-Alpha (2011–2025) yang sudah sangat terdidik serta sudah hidup dengan TIK dan berbagai aplikasi komputer sejak bayi. Generasi ini lebih intens lagi berkomunikasi lewat media digital ketimbang secara verbal. Pada saat itu bank harus benar-benar sudah bertransformasi ke bentuk layanan baru berbasis digital yang mengutamakan kemudahan, kecepatan dan kenyamanan bila ingin tetap eksis di pasar. Pendeknya, digital banking bukan sekadar upaya bank memanfaatkan TIK terbaru dalam bisnis keuangan, melainkan mengubah cara berpikir dan melakukan transformasi proses bisnis mengikuti perubahan pasar dan perkembangan teknologi digital.

Digital banking menghendaki standarisasi dalam produk dan aplikasi KPR, informasi, pengenalan nasabah, verifikasi, mitigasi risiko, sistem penilaian,  pemrosesan, legalitas dokumen elektronik, dan lain-lain, serta kerjasama dengan pihak terkait seperti perusahaan pengembang, broker properti, situs informasi/jual-beli rumah, dan lain-lain. Perkembangan penduduk mendukung standarisasi dan kerjasama itu. Mengutip laporan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), tahun 2030 sekitar 65% penduduk akan tinggal di perkotaan. Di kota pengadaan rumah lebih banyak dilakukan perusahaan pengembang, bukan secara swadaya oleh masyarakat. Selain lebih terdidik, wellinformed, dan melek Internet, indeks inklusi keuangan (punya rekening jasa keuangan) penduduk kota juga tinggi: di atas 90%. Jadi, lebih mudah bagi bank menyusun standar produk dan menjalin kerjasama.

Kolaborasi

Pengoperasian digital banking akan makin optimal bila jaringan bank kelak bisa terkoneksi dengan jaringan informasi pemerintah seperti kantor pertanahan (soal sertifikat tanah), Kementerian Dalam Negeri (identitas penduduk), pemerintah daerah (identitas penduduk dan IMB), dan Biro Kredit (profil risiko nasabah), serta didukung regulasi Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyangkut standarisasi aplikasi KPR, mitigasi risiko, verifikasi, penilaian, pemrosesan, legalitas dokumen elektronik, tanda tangan, keamanan data nasabah, dan lain-lain.

Bank yang highly regulated dengan digital banking sekalipun mungkin tetap sulit bergerak selincah perusahaan tekfin, terutama dalam menyalurkan pinjaman. Digital banking tetap tidak bisa membuat orang mendapatkan KPR semudah memesan taksi daring, pakaian, gadget, kamar hotel atau tiket pesawat di ecommerce. Ada proses yang memang bisa dilakukan lewat gadget seperti membayar cicilan, ada yang mungkin lebih save dikerjakan dengan PC seperti mengisi formulir aplikasi, melengkapi copy dokumen pendukung dan mengirimkannya lewat email, tapi ada tahapan (terkait keamanan kredit, regulasi, legalitas dan lain-lain) seperti meneken akad kredit, menyerahkan sertifikat tanah dan IMB, melakukan pelunasan, dan lain-lain yang tetap harus diselesaikan di kantor bank, tidak bisa lewat dunia maya atau call center.

Perumahan di Cileungsi, Bogor-Jawa Barat: Generasi milenial adalah pembeli rumah pertama untuk dihuni sendiri (end user) yang selama ini menjadi pasar utama KPR BTN. (Foto: SusiloWaluyo/HousingEstate).

Perumahan di Cileungsi, Bogor-Jawa Barat: Generasi milenial adalah pembeli rumah pertama untuk dihuni sendiri (end user) yang selama ini menjadi pasar utama KPR BTN. (Foto: SusiloWaluyo/HousingEstate).

Tapi, Bank BTN tak perlu khawatir. Selain berinvestasi sendiri dalam teknologi digital terkini untuk memperbaharui pelayanan, Bank BTN juga bisa berkolaborasi dengan perusahaan tekfin agar bisa melayani dengan baik pasar yang akan didominasi generasi Internet itu. Kolaborasi bisa berupa pengembangan inkubator perusahaan rintisan di bidang tekfin, memodali perusahaan ventura, mengambil alih perusahaan tekfin yang sudah berjalan, atau membentuk kemitraan.

Kecuali juga diizinkan menerima simpanan masyarakat dan regulasi yang  diterapkan BI dan OJK cenderung longgar, perusahaan tekfin sukar untuk bisa benar-benar menyaingi atau menjadi sebesar bank. Kalaupun ikut membiayai kredit rumah, nilai dan cakupannya pasti tetap terbatas. Namun, kalaupun perusahaan tekfin menjadi cukup besar dalam satu dekade mendatang, Bank BTN juga tak perlu terlalu khawatir karena potensi pasar pembiayaan perumahan di Indonesia masih amat besar. Sampai sekarang rasio penyaluran KPR/KPA terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia baru sekitar 3,5% dibanding di negara lain yang sudah di atas 10–20%.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me