Dari Maladewa, Turis China Berpaling ke Indonesia

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Sepanjang 2016, ada perubahan minat destinasi wisata para turis asal China.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya mereka berkunjung ke Maladewa untuk berlibur, tahun 2016 justru mencari destinasi lain, salah satunya Indonesia.

Untuk pasar hotel di Asia Pasifik, STR Indonesia melihat adanya pergerakan positif di sejumlah negara, kecuali Maladewa.

Hal tersebut dibuktikan dari perhitungan revenue per available room (revPAR) atau pendapatan dari kamar yang tersedia di Maladewa minus 0,15 persen.

“Sebelumnya banyak turis China datang ke Maladewa, tapi karena ada market shifting, China mulai bergeser,” ujar Manajer Pengembangan Usaha STR Global Indonesia Christy Megawati, saat Hospitality and Design Talk, di Artotel, Jakarta, Senin (13/3/2017).

Pelancong dari China tidak lagi didominasi oleh orang-orang dewasa lagi, tetapi generasi milenial yang memiliki daya beli tinggi.

Mereka ini melihat kemungkinan destinasi lain seperti Indonesia, khususnya Jakarta, Bandung, dan Manado.

Jika dikategorikan berdasarkan pulau yang paling favorit, selama 2016, Sulawesi mencatatkan prestasi positif.

“Manado menjadi target destinasi baru turis China. Banyak dibuka penerbangan itu memang efektif untuk market,” sebut Christy.

www.ihg.com Tampilan visual eksterior Indigo Bali Seminyak.

Lebih lanjut, ia menuturkan, kemudahan akses melalui penerbangan langsung dari China ke Manado juga semakin menarik bagi para turis mancanegara.

Fenomena wisatawan China berbondong-bondong masuk Tanah Air juga dibuktikan melalui laporan terbaru Horwath HTL bersama dengan C9 Hotelworks Bali Hotel dan Branded Residences 2017.

Laporan tersebut mengungkapkan, dari total jumlah kedatangan wisawatan mancanegara pada 2016 sebanyak 4,9 juta orang ke Bali, turis China menempati posisi kedua.

Wisatawan asal China juga diprediksi bakal menyalip Australia sebagai daerah asal pelancong terbanyak yang mengunjungi Bali pada tahun ini.

Meski Bali masih menjadi favorit turis, menurut hasil riset STR, pasar perhotelan mulai ketat dikarenakan banyaknya pasokan hotel yang tersedia.

“Hotel makin banyak di Jakarta dan Bali, otomatis persaingan ketat,” sebut Christy.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me