Simpang Susun Semanggi Dianggap sebagai Strategi yang Sudah Usang

Big Banner

JAKARTA, KompasProperti – Efektivitas pembangunan Simpang Susun Semanggi untuk mengurai kemacetan di Jakarta dalam jangka panjang, dipertanyakan.

Meski sempat menuai pujian dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kecepatan pembangunannya, Simpang Susun Semanggi dianggap sebagai strategi yang sudah usang.

Ketua Bidang Transportasi Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta Reza Firdaus, mengutarakan hal tersebut kepada KompasProperti, Selasa (21/3/2017).

Meski demikian, Reza mengakui, kemacetan di sekitar Semanggi bisa berkurang, terutama karena jalan yang akan dibangun adalah simpang tidak sebidang.

Ia menuturkan, rencana pengembangan Simpang Susun Semanggi memang akan berdampak pada pengurangan kemacetan.

Dia juga yakin kinerja jaringan jalan atau Level of Service (LoS) Jalan Semanggi bakal meningkat.

Tetapi, efektivitasnya hanya bersifat lokal. Jalan tersebut hanya berfungsi efektif untuk mengurangi hambatan di persimpangan Semanggi saja.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana perkembangan proyek pembangunan simpang susun Semanggi, Jakarta, Kamis (23/2/2017). Pembangunan proyek yang diharapkan akan mengurai kemacetan lalu lintas di kawasan Semanggi tersebut ditargetkan selesai pada Agustus 2017.

“Proses weaving dan merging tetap akan terjadi. Misalnya, ketika arus lalu lintas dari Slipi yang mengarah ke Blok M dapat menghindari hambatan seperti yang terjadi saat ini, dengan masuk ke jalur Simpang Susun Semanggi,” tutur Reza.

Namun, ketika arus tersebut sudah bertemu dengan arus lalu lintas lainnya yang mengarah ke Blok M, kemacetan tetap akan terjadi.

Demikian halnya arus dari Cawang ke arah Bundaran Hotel Indonesia yang dilayani Simpang Susun Semanggi.

Selain itu, efektivitas Simpang Susun Semanggi untuk mengurai kemacetan juga kurang karena dampaknya hanya jangka pendek. Pembangunan jalan ini justru akan memberi insentif untuk pengguna kendaraan pribadi. 

“Saya yakin lalu lintas atau jumlah pengguna jalan yang akan menggunakan atau melewati Semanggi akan bertambah dengan signifikan setelah simpang susun beroperasi,” kata Reza.

Dengan meningkatnya pengguna jalan yang akan melewati jalan tersebut, lanjut dia, dalam waktu dekat kemacetan tetap akan terjadi lagi seperti saat ini.

Betapa tidak, jumlah kendaraan yang selama ini berkontribusi terhadap kemacetan Jakarta, terutama di simpul Semanggi, meningkat setiap harinya.

Menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia pada 2016 saja, total penjualan sepeda motor mencapai 5.931.285 unit

Sementara penjualan mobil, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut pada tahun yang sama sebanyak 1.061.015 unit.

Dari total jumlah itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta melaporkan, yang mengaspal di jalan-jalan Jakarta sebanyak 3.469.168 unit untuk kendaraan roda empat, dan 13.989.590 unit untuk kendaraan roda dua.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Suasana perkembangan proyek pembangunan simpang susun Semanggi, Jakarta, Kamis (23/2/2017). Pembangunan proyek yang diharapkan akan mengurai kemacetan lalu lintas di kawasan Semanggi tersebut ditargetkan selesai pada Agustus 2017.

Strategi usang

Jadi, kata Reza, melihat data dan fakta tersebut, ada hal yang lebih besar yang perlu diperhatikan oleh para penentu kebijakan di bidang transportasi.

“Strategi mengurangi kemacetan dengan menambah kapasitas jalan adalah strategi yang usang, dan tidak akan pernah menang di kota besar seperti Jakarta,” ucap Reza.

Seharusnya, strategi yang dilakukan adalah dengan memberikan dan menerapkan disinsentif untuk pengguna kendaraan pribadi, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas transportasi publik.

Disinsentif pengguna kendaraan pribadi yang dapat diterapkan antara lain user fee.

“Jadi kalau lewat suatu jalan akan dikenakan biaya, contoh dari hal ini adalah penerapan Electronic Road Pricing (ERP),” sebut dia.

Kemudian ada barrier to entry, seperti pembatasan jam, plat nomor, maupun jumlah penumpang bila melewati jalan tertentu.
 
“Yang paling efektif apabila dilakukan strategi terintegrasi dan komprehensif tersebut dengan kombinasi peningkatan transportasi publik, pembangunan transportasi massal, dan penataan ruang yang efektif,” tutup Reza.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me