Pembangunan Kereta Cepat Dianggap Tidak Mengubah Lanskap Kota

Big Banner

KompasProperti – Proyek jalur kereta cepat menjadi satu hal jamak di Asia Tenggara untuk saat ini.

Pertumbuhan populasi di pusat-pusat kota dan ketertarikan investor potensial, mendorong pemerintah negara-negara Asia Tenggara mengembangkan infrastruktur tersebut.

Negara-negara Asia Tenggara telah dianggap siap menyambut era baru konektivitas.

Berkaitan dengan itu, sampai saat ini, namun progres pembangunan jalur kereta cepat Kuala Lumpur-Singapura telah sama-sama disepakati dan ditandatangani oleh Pemerintah Malaysia dan Singapura pada 2016 silam.

Di samping itu, Malaysia dan Thailand juga ditengarai tengah dalam pembicaran untuk membangun jalur tunggal kereta cepat untuk menghubungkan Kuala Lumpur dan Bangkok.

Kendati demikian, banyak pihak berpikir, pembangunan jalur kereta cepat bakal serta merta mengubah bentuk fisik lanskap sebuah kota, tetapi sebenarnya tidak seperti itu.

TRIBUNNEWS/JEPRIMA Model berfoto dengan miniatur kereta cepat milik China pada pameran Kereta Cepat dari Tiongkok (China) di Senayan City (Sency), Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2015).

“Penduduk Beijing dulu berpikir Tianjin adalah destinasi yang jauh dan menghabiskan waktu satu hari untuk menjangkaunya. Namun, kini mereka melihatnya sebagai halaman depan karena hanya membutuhkan waktu 35 menit saja,” jelas Kepala Peneliti JLL di China Utara Steve McCord.

Lebih lanjut McCord menjelaskan, keuntungan paling terasa bila menggunakan kereta cepat ketimbang pesawat atau transportasi darat lainnya adalah cenderung hanya memakan waktu kurang dari lima jam untuk perjalanan dengan jarak 100 hingga 1.200 kilometer.

Itu semua, termasuk yang berada di sepanjang koridor Shanghai-Beijing. Sebagai hasilnya, kereta cepat dengan rute tersebut menjadi jalur kereta cepat terbesar sekaligus paling menguntungkan di dunia.

Jalur tersebut juga kemudian membuat pengembangan kota lebih besar lainnya di Nanjing, Changzou, Wuxhi, dan Suzhou. Namun, apa yang saat ini terjadi di China bukan berarti bisa dilakukan dengan mudah di wilayah Asia lainnya.

KOMPAS.com / Bambang PJ Jalur kereta cepat yang tengah dibangun, Sabtu (20/2/2016)

“Efek dari transportasi kereta berkecepatan tinggi di daerah yang relatif miskin kurang menentu,” tambah Associate Director Research JLL di Shanghai Warner Brown.

Ucapannya itu bukan bualan belaka. Pasalnya, Brown telah menyaksikan dampak transportasi kereta cepat yang menghubungkan Shanghai dan Kuming di Provinsi Guizhou yang merupakan salah area paling tak berkembang di China.

Pemerintah negara-negara Asia Tenggara juga akan melihat dampak dari keberadaan kereta cepat itu. Bagi Asia Tenggara, banyak pelajaran yang bisa diambil dari adanya kereta cepat tersebut.

Selain menciptakan peluang bagi investor dan pengembang, tetapi juga memiliki dampak untuk bisnis dan penduduk yang ada di kota-kota sepanjang jalur kereta tersebut.

–– ADVERTISEMENT ––

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me