Pengembang Ini Sebut Penyebab Properti di Batam Menurun, Apa Sajakah?

Big Banner
Ilustrasi. Foto: Rumah123/iStock

Bakal berdiri dua menara apartemen khusus mahasiswa di kawasan Jatinangor, Sumedang. Hunian vertikal ini merupakan bagian dari proyek mixed use yang akan dikembangkan pengembang Trias Jaya Propertindo (TJP).

Berdiri di lahan seluas 2 hektare, apartemen yang bernama Granada Apartment ini akan dikembangkan dalam jangka waktu empat tahun ke depan. Nantinya, di kawasan apartemen tersebut akan dilengkapi dengan sarana komersial.

Baca juga: Pengembang Ini Bangun Resor Mahasiswa Bebas Narkoba di Bogor

Selain mengembangkan proyek baru di Jatinangor tersebut, TJP akan terus melanjutkan penjualan proyek-proyek mereka yang ada di Batam. Sebut saja Putra Jaya Residence, Cactus Garden, Grand BSI, Puri Asri, Valley Park.

Tak sebatas hunian, TJP juga mengembangkan proyek rumah-toko (ruko), yakni Ruko Tembesi Point Ruko Putra Jaya, Ruko Gajah MadaSquare, Niaga Mas 2, Grand Niaga Mas, Citra Nusa Niaga (CNN).

Baca juga: The Nove, Hunian Kelas Atas Kota Batam dengan Harga Bersahabat

President Director TJP Djaja Roeslim mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan mencetak marketing sales atau pra-penjualan sebanyak 500 unit. Itu belum termasuk proyek baru di dalamnya.

Target tersebut disamakan dengan target tahun lalu, yang ternyata memang tidak tercapai. “Penjualan tahun lalu hanya 300 unit, turun 40% dari tahun sebelumnya karena tantangannya yang cukup berat,” kata Djaja seperti dikutip dari Kontan.co.id, Senin (17/4).

Baca juga: Kolaborasi Sinar Mas Land-KOP Limited Kembangkan Nuvasa Bay Batam

Menurutnya, penjualan properti tahun lalu di Batam menurun karena kondisi ekonomi yang melambat dan adanya hambatan aturan lokal. “Persoalan antara BP Batam dan Pemda Batam saat ini semakin rumit,” katanya.

Kekisruhan antara keduanya hingga saat ini yang belum bisa diselesaikan, secara langsung membuat industri properti di Batam melambat. Sementara proyek yang dikembangkan TJP adalah hotel dan resor.

Perusahaan TJP memiliki Gili Air Lagoon Resort yang mulai beroperasi pada awal Juli 2015. Penginapan yang saat ini berkapasitas 17 vila ini dikelola oleh Platinum Hotel Management, operator hotel penanaman modal asing (PMA) asal Australia.

Baca juga: Sinar Mas Land Garap Proyek Elite di Batam

Sementara di Bali, TJP memiliki Hotel Fox Harris berbintang empat dengan 125 kamar. Hotel yang dioperasikan Tauzia tersebut mulai beroperasi pada September 2016.

“Tingkat okupansi yang di Lombok selalu di atas 70%. Namun, yang di Bali baru 40% karena masih baru dan persaingan hotel di sana juga berat. Tapi, kami harap akhir tahun ini sudah bisa mencapai 40%,” kata Djaja berharap.

 

rumah123.com