Tren Pusat Belanja; Jakarta Sepi, Bodetabek Bergeliat (2)

Big Banner

Dominasi Kuliner

Berbeda dengan target pembangunan mal baru beberapa dekade yang lampau, pengembang saat ini cenderung membangun pusat perbelanjaan mendekati kawasan pemukiman. Jika sebelumnya pembangunan mal memilih lokasi di pusat
kota (Jakarta), kini kawasan yang dekat dengan pengunjung lebih menarik untuk pengembang. Semakin padatnya kawasan pemukiman di Bodetabek tentunya menciptakan kebutuhan ruang retail yang terus meningkat.

Arief Rahardjo, Senior Associate Director Research & Advisory di PT Cushman & Wakefield Indonesia, menilai tren pembangunan pusat perbelanjaan saat ini dan selanjutnya kebanyakan di residensial estate sehingga memiliki basis pasar yang terjamin. Hal ini seiring dengan positioning dari pusat perbelanjaan itu sendiri sebagai tempat berkumpul dengan keluarga, kerabat ataupun meeting point.

Persepsi mal sebagai tempat berbelanja kini memang sudah mulai berubah. Hal ini diutarakan oleh CEO Retail & Hospitality Sinar Mas Land, Alphonzus Widjaja. Menghabiskan waktu liburan oleh keluarga muda saat ini lebih sering untuk “berjalan-jalan” ke mal.

“Pusat perbelanjaan atau mal sekarang bukan hanya tempat untuk berbelanja saja, tetapi lebih ke lifestyle. Karena, harus diakui, pertumbuhan e-commerce yang menjanjikan kemudahan dalam berbelanja luar biasa. Ini merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi e-commerce. Kita tidak bisa hanya dengan jualan barang saja. Tetapi shopping experience yang tidak bisa diperoleh jika membli online bisa kita maksimalkan,” terangnya.

Oleh karena itu, peritel yang aktif di Bodetabek umumnya dari food and bevarage (FnB) atau makanan dan minuman. Sektor makanan dan minuman yang dijual di pusat perbelanjaan dinilai merupakan daya tarik utama yang saat ini membuat pengunjung berbondong-bondong mengunjungi mal.

Head of Retail konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, James Austen di Jakarta, Rabu (1/2/2017) mengatakan permintaan terhadap sektor makanan dan minuman masih menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen untuk menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.

Sementara itu, dilansir dari Kantor Berita Antara, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan kenaikan omzet ritel pada 2017 kurang lebih sebesar 10 persen, dengan nilai omzet kurang lebih mencapai Rp219 triliun, diluar nilai makanan dan minuman olahan.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (28/12) mengatakan bahwa dengan target pertumbuhan ekonomi pada 2017 sebesar 5-5,4 persen persen, diharapkan mampu mendorong daya beli masyarakat khususnya pada sektor ritel modern.

Berdasarkan data Aprindo, tercatat bahwa omzet ritel pada 2015 sebesar Rp181 triliun dan diperkirakan meningkat pada 2016 menjadi sebesar Rp199,1 triliun. Nilai tersebut diluar transaksi makanan dan minuman olahan yang pada 2015 mencapai Rp1.430 triliun. MPI MRR (Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me