Tren Pusat Belanja; Jakarta Sepi, Bodetabek Bergeliat (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi mei 2017, di rubrik Monitor menurunkan tulisan tentang tren pengembangan pusat belanja yang kini menyasar ke wilayah di luar Jakarta. Yakni Bogor depok tangerang dan bekasi di samping wilayah lain di luar Pulau lain.

Disebutkan, sejak beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pusat perbelanjaan di Jabodetabek terus bergeser. Di tahun tahun mendatang, tren ini masih akan terus berlanjut. Terlebih ketika moratorium pembangunan mal baru di Jakarta masih belum dicabut.

Kendati okupansinya stabil, area Central Business District (CBD) Jakarta tak akan mendapatkan tambahan pusat belanja pada tahun ini. Penyebabnya adalah moratorium yang diberlakukan sejak era Fauzi Bowo di tahun 2011. Praktis setelah adanya moratorium tersebut, ruang ritel di CBD hanya bertambah melalui Lotte Avenue yang
beroperasi pada 2013.

“Selain moratorium, tingginya harga lahan untuk ritel di CBD jadi alasan mengapa para pengembang atau pemilik lahan enggan mengembangkan atau membuka pusat belanja di sana,” terang Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto.

Kondisi sebaliknya justru terjadi di wilayah penyangga Jakarta atau Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Temuan Colliers Indonesia membuktikan ada dua pusat belanja baru yang beroperasi selama 2016 silam, yaitu Metropolitan Cileungsi di Bogor dan Q Big Mall di BSD, Tangerang.

Hingga pada kuartal-IV 2016, kedua mal baru itu menambah suplai kumulatif ruang ritel di Bodetabek menjadi 2,47 juta meter persegi. Sebelumnya, menurut laporan Cushman & Wakefield Indonesia, di kawasan bogor telah masuk Lippo
Plaza Keboen Raya, mal ke 66 dari Lippo Group. Sedangkan Living World Alam Sutera direncanakan akan dirombak besar- besaran. Rencananya mal tersebut akan dibuka di akhir tahun ini.

Tidak berhenti sampai di situ, Colliers memprediksi Bodetabek akan mendapatkan tambahan 15 pusat belanja baru dalam kurun waktu dua tahun mendatang. Kebanyakan dari pusat belanja tersebut masih dalam tahap perencanaan dengan waktu penyelesaian pada 2019. Sementara itu, dua pusat belanja akan dating di Bekasi yakni Grand Dhika City Mall seluas 24.000 meter persegi dan Bekasi Trade Center 2 seluas 56.000 meter persegi akan menambah suplai tahun ini di wilayah Bodetabek.

Pembangunan mal baru tersebut akan menambah ruangan sebanyak 532.685 meter persegi berada di luar Jakarta. Dalam tahun 2017, wilayah Bodetabek akan dibangun 2 pusat perbelanjaan baru dengan luas total 80.000 meter persegi. Kemudian di tahun berikutnya 4 mal baru seluas 188.685 meter persegi akan hadir di Bodetabek dan tujuh pusat belanja baru pada 2019 menambah ruang seluas 244.000 meter persegi.

Hal ini memperkuat data Colliers se – belumnya yang menyatakan bahwa Tange rang dan Bekasi akan menjadi kota memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan ritel. Saat ini, Tangerang sendiri sudah berkontribusi atas ruang retail sebanyak 41%, sementara bekasi 31%.

Dengan tambahan di tahun 2018 akan berdiri Vivo Sentul Lifestyle (Cibinong), Vivo Sentul Trademall (Cibinong), Plaza Indonesia Jababeka (Jababeka), AEON Mall (Sentul). Menyusul kemudian di tahun 2019 Living World Jababeka (Jababeka), AEON Mall Deltamas (Deltamas), Hollywood Central (Cikarang), Embarcadero (Bintaro), Kota Harapan Indah (Bekasi), Shopping Mall at Green Lake (Cimanggis), Mall at Pesona Square (Juanda).

Kesimpulan ini serupa dengan apa yang ditemukan oleh Cushman & Wakefield Indonesia. Dibandingkan wilayah lainnya, Tangerang dan Bekasi masih akan menjadi lokasi utama tempat berdirinya pusat perbelanjaan. Padahal pada semester pertama 2011 saat moratorium dike luarkan, Jakarta menguasai 70,9% pasokan ruang ritel. Namun, kini setelah lima tahun berselang, Jakarta mulai turun ke 65,1%.

“Ruang ritel Bodetabek tumbuh 28% selama tiga tahun terakhir,” ungkap riset kuartal III/2016 Cushman & Wakefield.

Selain Jakarta, wilayah Bodetabek menjadi pilihan kedua bagi retailer mancanegara untuk ekspansi di Indonesia. Apalagi, basis pasar di wilayah penyangga kian tinggi seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.

Retailer-retailer yang beberapa tahun terlalu hanya ada di Jakarta, terutama brand fashion ternama, kini juga sudah membuka gerainya di mal luar Jakarta. Tujuan utamanya dimana lagi kalau bukan daerah penyangga yang populasi kelas menengahnya cukup besar.

Seperti diketahui, jika sebagian besar kelas menengah yang berdomisili di Bodetabek mencari nafkah di Jakarta. Maka tidaklah mengherankan para retailer ini ingin lebih mendekatkan diri kepada konsumennya agar lebih mudah dijangkau. Terlebih lagi karakter kelas menengah tingkat konsumsinya menjadi penggerak ekonomi Indonesia beberapa tahun ter akhir.

Alhasil, dalam laporan Marketbeat 2H 2016, Cushman memperkirakan suplay ruang retail di tahun 2017 akan tumbuh sebesar 1,2%. Mal yang sudah memasuki tahap pembangunan diperkirakan akan mendapatkan pre-commitment sales yang tinggi.

Berdasarkan catatan Colliers Internasional Indonesia, sebanyak 85 persen komitmen peritel diperoleh untuk mengokupasi pusat belanja bahkan sebelum rampung dibangun. “Atas fakta tersebut, pengembang-pengembang pun yakin untuk membangun ruang ritel baru dalam kurun waktu dua tahun ke depan,” timpal Ferry. (Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui: https://www.getscoop.com/id/majalah/properti-indonesia lebih praktis dan lebih ekonomis).

mpi-update.com